NUKILAN.ID | LHOKSUKON — Hingga Sabtu (7/2/2026), pasokan listrik di 16 desa di Provinsi Aceh belum pulih meski bencana banjir telah berlalu sekitar dua bulan lalu. Hambatan utama pemulihan listrik disebabkan oleh akses jalan yang sulit, termasuk jembatan putus dan jalan ambles di wilayah terdampak.
Selama listrik belum menyala, warga di desa-desa tersebut terpaksa mengandalkan generator listrik dan lampu tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan penerangan sehari-hari.
Berdasarkan data PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Provinsi Aceh, 16 desa terdampak tersebar di enam kabupaten. Di Kabupaten Aceh Tengah, desa yang belum teraliri listrik meliputi Desa Atu Payung, Bintang Pepara, Delung Sekinel, Jamat, Karang Ampar, Kekuyang, Kute Reje, Umang, dan Reje Payung.
Sementara itu, di Kabupaten Aceh Utara masih terdapat Desa Lesten dan Desa Lubok Pusaka yang belum mendapatkan suplai listrik. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Sah Raja, Kabupaten Aceh Timur; Desa Salah Sirong Jaya, Kabupaten Bireuen; Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang; serta Desa Sikundo di Kabupaten Aceh Barat.
Manajer Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa medan yang berat menjadi kendala utama tim teknis dalam melakukan perbaikan jaringan listrik. Jalan yang ambles dan jembatan yang terputus menyulitkan proses pengangkutan tiang, kabel, serta material pendukung lainnya ke lokasi terdampak.
“Medannya memang sangat berat, kami berusaha memulihkan seluruh desa secepatnya. Tim terus berjuang di lapangan,” ujar Lukman Hakim.
Sementara itu, Kepala Desa Leubok Pusaka, Kabupaten Aceh Utara, Janni, berharap pemulihan listrik dapat segera direalisasikan. Ia menyebut, selama dua bulan terakhir warga pengungsi banjir hanya mengandalkan mesin generator dan lampu tenaga surya.
“Masalah kami cuman listrik saja yang belum menyala. Kami harap bisa dipercepat,” katanya.
Menurut Janni, warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bahan bakar guna menyalakan generator listrik pada malam hari. Kondisi tersebut semakin memberatkan, mengingat sumber penghasilan warga saat ini terbatas.
“Untuk ke kebun kan belum bisa, hancur dan penuh lumpur semuanya. Beli bahan bakar untuk menyalakan mesin generator malam hari itu berat juga bagi warga,” pungkasnya. (XRQ)

