NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Tamiang kembali menurunkan tim fogging ke sejumlah pemukiman penduduk sebagai upaya pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan malaria, menyusul meningkatnya populasi nyamuk pascabencana banjir.
Kegiatan pengasapan tersebut dilakukan secara generalisasi di wilayah terdampak banjir yang tersebar di 12 kecamatan. Salah satu lokasi fogging berada di kawasan bantaran sungai Desa Kota Lintang, Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (7/2/2026).
Kepala Dinkes Aceh Tamiang, Mustaqim, mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap potensi meningkatnya risiko penyakit berbasis lingkungan pascabanjir.
“Sehubungan dengan peningkatan populasi nyamuk pascabencana banjir di 12 kecamatan, maka kami dari Dinas Kesehatan melakukan proses fogging secara generalisasi,” kata Mustaqim saat ditemui di Aceh Tamiang, Sabtu.
Mustaqim menjelaskan, pelaksanaan fogging kali ini dilakukan melalui kolaborasi lintas daerah dan instansi, yakni bersama Dinas Kesehatan Kota Binjai, Sumatera Utara, Balai Karantina Kesehatan Lhokseumawe, serta Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Hingga saat ini, fogging telah dilakukan di sembilan kecamatan.
Adapun sembilan kecamatan tersebut meliputi Kuala Simpang, Karang Baru, Rantau, Tamiang Hulu, Tenggulun (Simpang Kiri), Kejuruan Muda, Bandar Pusaka, Manyak Payed, dan Sekerak.
“Sementara untuk tiga kecamatan lagi yang berada di wilayah pesisir yakni Kecamatan Seruway, Bendahara dan Banda Mulia bakal menyusul secara simultan,” ujarnya.
Selain pengasapan, Dinkes Aceh Tamiang juga melakukan upaya pencegahan lain melalui pemberian abate pada gorong-gorong, selokan, bak penampungan air, serta lokasi yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Kegiatan ini akan terus dilakukan secara bertahap dan simultan, khususnya di wilayah yang memiliki risiko endemi DBD dan malaria. Meski hingga kini belum ditemukan kasus positif DBD, Dinkes Aceh Tamiang mencatat terdapat 14 kasus suspek, dengan sembilan di antaranya telah dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE).
“Nanti di Puskesmas kami akan melakukan proses pemberian abate sehingga pihak surveillance program DBD melakukan memberikan abate pada seluruh sumur atau tempat air yang tergenang di wilayah kerja masing-masing Puskesmas,” katanya.
Mustaqim menegaskan bahwa peningkatan populasi nyamuk berpotensi terus terjadi. Oleh karena itu, selain fogging dan pemberian abate, peran aktif masyarakat melalui gotong royong menjaga kebersihan lingkungan dinilai menjadi langkah paling efektif.
Menurutnya, setelah tenda pengungsian tidak lagi digunakan, masyarakat dapat lebih optimal melakukan kerja bakti untuk mencegah munculnya jentik nyamuk di genangan air maupun tumpukan sampah.
Selain pengasapan, masyarakat juga diimbau menerapkan gerakan 3M, yakni mengubur barang bekas, menguras bak air secara rutin, serta menutup tempat penampungan air guna mencegah nyamuk bertelur.
“Kalau misalnya lingkungan dan airnya bersih, Insya Allah tidak ada larva nyamuk yang hinggap di dalam genangan air tersebut,” demikian Mustaqim.

