NUKILAN.ID | TAPKTUAN — Di tengah perjuangan pasien yang bergantung pada ketersediaan darah, muncul fenomena yang diam-diam mengusik nilai kemanusiaan: keengganan sebagian keluarga pasien untuk mendonorkan darah, meski secara kondisi fisik dinyatakan sehat dan memenuhi syarat.
Di ruang-ruang rumah sakit, harapan kerap bertumpu pada satu hal sederhana—setetes darah dari sesama. Namun ironi muncul ketika relawan justru hadir tanpa ikatan apa pun, sementara dari lingkaran terdekat pasien, berbagai alasan kerap muncul untuk menghindar.
Ada yang mengaku takut jarum suntik, merasa lemah, hingga memilih diam tanpa kepastian. Di sisi lain, waktu terus berjalan, sementara nyawa orang terkasih berada di ujung penantian.
“Ini bukan sekadar soal berani atau tidak. Ini soal kejujuran hati. Ketika kita mengaku sayang, tetapi enggan berkorban, maka ada nilai kemanusiaan yang sedang kita abaikan,” ujar Gusmawi Mustafa, Ketua Blood For Life Foundation Aceh Selatan.
Ia menilai fenomena tersebut sebagai ironi yang menyakitkan. Di satu sisi, keluarga tampak cemas dan penuh kasih, namun ketika peluang untuk berkontribusi nyata hadir, justru dihindari dengan berbagai dalih.
“Cinta itu bukan hanya air mata dan doa. Cinta itu keberanian untuk hadir dan memberi, bahkan ketika itu sedikit menyakitkan bagi diri sendiri,” tegasnya.
Selain itu, Gusmawi juga menyoroti persoalan lain yang tak kalah memprihatinkan, yakni relawan donor darah yang perlahan dilupakan setelah kebutuhan pasien terpenuhi.
Menurutnya, tidak sedikit relawan yang kehilangan komunikasi dengan keluarga pasien yang pernah mereka bantu. Pesan tak lagi dibalas, silaturahmi terputus, bahkan ucapan terima kasih pun kerap tak terdengar.
Padahal, bagi para relawan, hubungan tersebut bukan sekadar tentang darah yang telah diberikan. Ada nilai kemanusiaan, empati, dan harapan akan ikatan kebaikan yang terus terjaga.
“Relawan tidak pernah meminta balasan. Tetapi menghargai itu adalah bagian dari kemanusiaan. Ketika komunikasi terputus begitu saja, yang terluka bukan hanya perasaan, tetapi juga semangat untuk terus membantu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa gerakan donor darah bukan hanya soal memenuhi kebutuhan medis, tetapi juga membangun ekosistem kepedulian yang berkelanjutan. Ketika relawan merasa dihargai, mereka akan terus hadir. Sebaliknya, jika dilupakan, semangat itu dapat memudar.
“Jangan biarkan orang-orang baik merasa sendiri. Jangan biarkan ketulusan dibalas dengan keheningan,” tambahnya.
Fenomena ini, lanjutnya, menjadi refleksi bagi masyarakat bahwa kepedulian tidak berhenti saat kebutuhan selesai. Ia harus terus hidup melalui rasa terima kasih, silaturahmi, dan saling menghargai.
Di akhir pernyataannya, Gusmawi mengajak masyarakat untuk kembali merenungi makna kepedulian yang sesungguhnya.
“Jika kita belum mampu menjadi penolong, jangan menjadi orang yang menghalangi. Jika kita belum bisa memberi banyak, jangan menutup hati untuk memberi sedikit. Karena bisa jadi, satu kantong darah yang kita abaikan hari ini, adalah harapan yang hilang bagi orang yang kita cintai,” pungkasnya.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak hanya diuji saat seseorang membutuhkan pertolongan, tetapi juga saat diberi kesempatan untuk memberi—dan di sanalah, nilai kemanusiaan sejati diuji. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News







