Sunday, November 27, 2022

Burung Laut Ternyata Punya Jalur Migrasi Asia Timur Sampai Australasia

Nukilan.id – Indonesia merupakan bagian penting bagi perjalanan migrasi burung laut. Wilayah Indonesia yang sebagian besar lautan, adalah jalur terbangnya burung laut, yaitu Asia Timur-Australasia.

Jalur ini membentang dari Rusia timur dan Alaska ke selatan melalui Asia Timur dan Asia Tenggara, hingga Australia dan New Zealand, melewati 22 negara.

Muhammad Iqbal, alumni FMIPA Biologi UNSRI & Daemater Consulting menjelaskan, laut Indonesia berperan penting bagi burung laut. Sebab perairan, teluk, tambak, karang, hingga atol dimanfaatkan burung tersebut untuk beristirahat dan mencari makan saat perjalanan panjangnya.

“Seringnya di pulau-pulau kecil, terutama di timur indonesia seperti di Papua, laut Banda, Halmahera. Sementara di barat Indonesia, ada di Berbak-Sembilang, Jambi,” ujarnya pada webinar “Pentingkah Menjaga Jalur Migrasi Burung Laut?” pada Sabtu (05/03/2022).

Iqbal menuturkan, burung laut adalah jenis yang beradaptasi dengan lingkungan laut. Hidup lebih lama, lebih lambat berkembang biak, dan memiliki jumlah anak lebih sedikit dibanding jenis lain.

Jenis yang melakukan migrasi tahunan adalah camar, dara laut, petral badai-Swinhoe, pecuk-ular asia, penggunting-laut belang, dara-laut Aleutian, juga cikalang christmas.

“Namun, penelitian burung laut jauh lebih sedikit dibanding burung hutan. Tantangan utamanya adalah lokasi terpencil, susahnya transportasi, biaya perjalanan mahal, juga keselamatan dari ancaman badai dan terjangan ombak,” jelasnya.

Minim penelitian

Iqbal menjelaskan, penelitian burung laut di Indonesia sudah dilakukan sejak era kolonial 1800-an. Saat itu, H. Schlegel mempublikasikan laporan berjudul De Vogels Van Nederlandsch Indie, 1863. Ia mengkoleksi undan putih (Pelecanus onoccrotalus), dari Sumatera.

Lalu, Adolphe Guillaume Vonderman, dengan publikasi Lampong-Vogels 1865, koleksinya angsa-batu topeng (Sula dactylatra), dari Selat Sunda.

Selanjutnya ada ekpedisi Snellius Expedition 1920-1930. Perjalanan ini mengeksplorasi potensi laut Indonesia menggunakan Kapal Snellius. Salah satu koleksi spesimennya adalah petral-badai muka-putih di Pulau Weh, Aceh, 1930.

Akhir 1900-an, riset burung laut di Indonesia masih didominasi peneliti Eropa seperti Bas van Balen, Bishsop, Cadee, hingga De Korte.

Penelitian terkini, tentang cikalang christmas di Teluk Jakarta dilakukan Francisca Noni Tirtaningtyas dan Janos C. Hennicke serta camar laut di Lombok oleh Muhammad Iqbal dan Andi Admiral.

Waskito Kuku Wibowo, dari Burungnesia mengatakan, persebaran burung laut berdasarkan data Burungnesia per 1 Maret 2022, ada 873 titik dan 452 ceklis di laut.

Dari pengamatan Burungnesia, dara-laut biasa terpantau 111 ceklis dengan jumlah 868 individu dalam satu kelompok pada satu kali pengamatan. Dara-laut sayap putih berjumlah 201 ceklis dengan 200 individu, hingga pecuk-padi hitam dengan jumlah ceklis 279 dengan 576 individu.

“Yang paling banyak dara-laut jambul, 296 ceklis dan 870 individu,” ujarnya.

Jenis terancam punah

Simba Chan, Wild Bird Society of Japan & Japan Bird Research Assosiation menjelaskan dara-laut cina (Thalasseus bernsteini0 adalah burung pengembara yang sering dijumpai di pulau-pulau kecil di pesisir timur Tiongkok saat berbiak. Di Tiongkok, jenis ini hanya terpantau di dua tempat, yaitu di pantai timur Tiongkok: Zhejiang dan Provinsi Fujian.

“Di luar musim berbiak, dara-laut cina terpantau mengembara hingga ke Indonesia.”

Di Indonesia, dara-laut cina teramati dalam kumpulan dara-laut jambul (Thalasseus bergii) yang tengah mencari makan di bebatuan pantai.

Keberadaan jenis ini, di Indonesia pertama kali diketahui melalui sebuah spesimen tunggal yang berasal dari Kao, Halmahera, pada 22 November 1861.

“Namun, setelah itu tak ada lagi laporan keberadaannya di perairan Indonesia.”

Pertemuan kembali dengan jenis ini terjadi pada 4 Desember 2010. Satu individu dara-laut cina teramati tengah bersama kelompok dara-laut jambul di perairan Pulau Seram bagian utara.

Pada November 2014-2015, jenis ini kembali terlihat di lokasi yang sama. Sedangkan pada pertengahan Januari 2016, satu individu dara-laut cina dewasa serta kemungkinan satu dara-laut cina remaja terpantau bergabung bersama sekitar 250 individu dara-laut jambul.

Burung terancam punah lainnya adalah Cikalang christmas (Fregata andrewsi). Keberadaan burung ini, dipengaruhi tekanan manusia, seperti eksploitasi besar-besaran sumber daya alam, serta tercemarnya laut akibat polusi limbah. Burung ini berkembang biak di Pulau Christmas, Australia, namun mencari makan dan beristirahat di Indonesia.

Desy Satya, perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menjelaskan burung laut di Indonesia sudah menjadi target konservasi.

Upaya konservasi yang dilakukan KLHK adalah merehabilitasi mangrove. Target KLHK, yaitu 124.000 hektar tahun 2021, 155.000 hektar (2022), 155.000 hektar (2023), dan 187.000 hektar (2024). Total 621.000 hektar.

“Publikasi dari peneliti burung laut di Indonesia, tentu akan menjadi landasan kebijakan Pemerintah Indonesia,” tegasnya. [Mongabay]

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img

1 COMMENT

  1. […] Burung laut ini banyak sekali jenisnya, lho! Beberapa jenis burung laut antara lain adalah Cikalang Kecil, Cikalang Besar, Cikalang Christmas, Dara-laut Kecil, Dara-laut Biasa, Dara-laut Aleutian. Sayang sekali nih, ada beberapa burung laut yang keberadaannya terancam punah. Mereka yang sudah terancam punah antara lain Cikalang Christmas (Fregata andrewsi) dan Penggunting-laut Belang (Calonectris leucomelas). Penyebab menurunnya populasi mereka adalah seringnya terjadi penangkapan secara tidak sengaja melalui tali pancing. Duh, ternyata mereka ini bisa jadi tangkapan sampingan juga, ya. Tapi, jangan sedih dulu! Desy Satya, perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menuturkan bahwa burung laut sudah menjadi target konservasi pemerintah Indonesia juga.  […]

Comments are closed.