NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh tak hanya mengguncang sektor sosial dan ekonomi, tetapi juga berdampak pada dinamika peredaran narkotika. Hal ini disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si.
Dikutip dari Dialeksis, Brigjen Dedy mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan intelijen, peredaran narkoba di Aceh menjelang akhir tahun 2025 hingga Tahun Baru 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Berdasarkan pemantauan intelijen kami, peredaran narkoba di akhir tahun 2025 ini tidak seperti tahun-tahun lalu. Terjadi penurunan jika dibandingkan dengan kondisi sebelum bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh,” ujar Brigjen Dedy.
Ia menjelaskan, fokus masyarakat yang tertuju pada upaya pemulihan pascabencana menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Wilayah yang selama ini dikategorikan rawan peredaran narkoba, seperti Kabupaten Bireuen hingga Aceh Tamiang, termasuk daerah yang terdampak banjir cukup parah.
“Wilayah-wilayah yang dianggap rawan narkoba, seperti Bireuen sampai Tamiang, terdampak banjir yang sangat parah. Kondisi ini berpengaruh ke seluruh sektor, termasuk perekonomian masyarakat,” jelasnya.
Menurut Brigjen Dedy, melemahnya aktivitas ekonomi akibat bencana turut memberi efek berantai terhadap berbagai aktivitas ilegal, termasuk jaringan peredaran narkotika. Ketika mobilitas masyarakat menurun dan roda ekonomi melambat, ruang gerak jaringan narkoba pun ikut tertekan.
“Apabila sektor ekonomi melemah, dapat dipastikan hal tersebut memiliki pengaruh kuat ke berbagai aspek kehidupan, termasuk aktivitas dan peredaran narkoba,” tambahnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penurunan peredaran narkoba ini tidak boleh membuat semua pihak lengah. Ia mengingatkan bahwa jaringan narkotika memiliki kemampuan beradaptasi dan berpotensi kembali memanfaatkan situasi ketika kondisi mulai pulih.
BNN Provinsi Aceh, lanjutnya, tetap mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kewaspadaan dan sinergi, khususnya di masa pemulihan pascabencana. Upaya kemanusiaan dan pemulihan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pengawasan sosial agar Aceh tidak hanya bangkit dari bencana alam, tetapi juga terbebas dari ancaman narkotika.












