BlindVision, Inovasi Tongkat Pintar Karya Mahasiswa USK Bantu Mobilitas Aman Siswa Tunanetra

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Suasana aula Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Banda Aceh tampak berbeda pada Jumat pagi. Antusiasme dan rasa penasaran para siswa tunanetra terlihat ketika Tim Yareuu dari Universitas Syiah Kuala (USK) memperkenalkan BlindVision, sebuah tongkat pintar berbasis Arduino yang dirancang untuk membantu mobilitas lebih aman dan mandiri bagi penyandang disabilitas netra.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam Sosialisasi Implementasi Program The 6th Innovillage 2025, yang menjadi bagian penting perjalanan inovasi sosial yang dikembangkan tim mahasiswa USK tersebut.

Dosen Pembimbing Tim Yareuu, Ir. Febi Mutia, S.T., M.Sc., menjelaskan bahwa keterlibatan tim bermula dari Program Innovillage, yakni program kolaborasi antara Telkom Indonesia, Telkom University, dan berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang berfokus pada pengembangan inovasi sosial berbasis teknologi digital.

“Dari ratusan tim yang pitching, kini 180 tim dari seluruh kampus di Indonesia resmi didanai dan siap masuk tahap implementasi Innovillage 6th, dan Tim Yareuu adalah salah satunya,” ungkap Febi.

Ia menambahkan, setiap tahun Innovillage mendorong peserta mengembangkan inovasi dalam lima fokus utama, yakni lingkungan, kesehatan, pangan, UMKM dan perempuan, serta disabilitas. Tema inklusi yang diangkat Tim Yareuu kemudian membawa mereka bermitra dengan SLB Negeri Banda Aceh.

Menurut Febi, proses pengembangan inovasi tidak langsung dimulai dari laboratorium, melainkan dari pendekatan sosial. Sejak November 2025, tim melakukan observasi lapangan, presentasi, monitoring, hingga sosialisasi dan implementasi program. Mereka melakukan wawancara langsung dengan tujuh siswa tunanetra dan guru untuk memahami tantangan mobilitas sehari-hari.

Dari hasil observasi tersebut, tim menemukan berbagai hambatan yang kerap dihadapi siswa, mulai dari rintangan di depan, benda setinggi lutut, hingga genangan air yang sulit terdeteksi menggunakan tongkat konvensional. Dari kebutuhan itulah kemudian lahir BlindVision.

Ketua tim, Frans Ryan Situmorang, bersama anggota tim Ohi Dermawan T. dan Najwa Fajrina Latisi, mahasiswa Teknik Pertambangan USK, menjelaskan bahwa BlindVision merupakan tongkat pintar berbasis Arduino yang mampu mendeteksi rintangan secara real-time dan memberikan peringatan melalui getaran serta suara.

“BlindVision dirancang sebagai solusi mobilitas yang lebih aman dan adaptif. Teknologinya terjangkau, mudah dirakit, serta bersifat open-source sehingga bisa dikembangkan lebih lanjut. Kami juga menghadirkan sistem peringatan multi-indra—vibrasi dan audio—agar pengguna mendapatkan informasi lebih jelas,” terang Frans.

Tongkat pintar tersebut dilengkapi sensor pada kotak utama yang mampu mendeteksi objek di bagian depan dengan jarak 10–40 sentimeter, sisi kanan 10–40 sentimeter, serta sisi kiri 10–50 sentimeter. Ketika rintangan terdeteksi, pengguna akan menerima peringatan berupa getaran dan audio. Alat ini juga memiliki fitur bantuan dan alarm suara apabila tongkat terjatuh.

Berbeda dengan tongkat konvensional yang mengandalkan sentuhan fisik, BlindVision memungkinkan pengguna mengetahui keberadaan rintangan lebih awal sehingga memiliki waktu untuk merespons dengan lebih aman.

Dalam sesi praktik, tim memperagakan langsung cara kerja alat di hadapan siswa. Saat sensor mendeteksi kursi di depan, tongkat secara otomatis bergetar dan mengeluarkan suara peringatan. Sejumlah siswa dan guru pendamping kemudian mencoba alat tersebut secara langsung dan merasakan fungsi getaran sebagai penunjuk arah langkah.

Kepala SLB Negeri Banda Aceh, Nurlina, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas inovasi yang diperkenalkan kepada para siswa. Menurutnya, BlindVision tidak hanya menjadi alat bantu mobilitas, tetapi juga media pembelajaran teknologi yang mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa tunanetra.

Bagi Tim Yareuu, inovasi ini bukan sekadar proyek kompetisi, melainkan wujud komitmen menghadirkan teknologi yang inklusif bagi semua kalangan. Dalam sesi penutup kegiatan, Febi menegaskan pentingnya teknologi yang dapat diakses oleh semua orang.

“Teknologi tidak hanya milik mereka yang mampu melihat, tetapi juga hadir untuk mereka yang ingin melangkah lebih jauh tanpa rasa takut.”

Mengusung tagline “Langkah Pasti, Tanpa Ragu. Mobilitas Aman untuk Tunanetra,” BlindVision menjadi contoh kolaborasi antara kampus, industri, dan lembaga pendidikan dalam menghadirkan solusi nyata bagi penyandang disabilitas.

Bagi para siswa yang mencoba tongkat pintar tersebut, pengalaman di aula SLB Negeri Banda Aceh pagi itu menjadi lebih dari sekadar kegiatan sosialisasi. Inovasi tersebut menghadirkan harapan baru menuju kemandirian—langkah pasti tanpa ragu. (XRQ)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News