ANRI Dorong Pemanfaatan Arsip Bencana Lewat Peluncuran Buku MemoryGraph

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Arsip Nasional Republik Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pemanfaatan arsip sebagai sumber pembelajaran sekaligus penguatan ketahanan masyarakat. Komitmen itu disampaikan dalam peluncuran buku MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto yang berlangsung di Auditorium Tsunami and Disaster Mitigation Research Center, Universitas Syiah Kuala.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran arsip dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat Aceh, yang terbentuk dari pengalaman panjang menghadapi bencana, termasuk Tsunami Samudra Hindia 2004. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perubahan lanskap tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memengaruhi memori kolektif masyarakat.

Dari pengalaman tersebut, berkembang pendekatan dokumentasi visual MemoryGraph yang memungkinkan masyarakat merekam perubahan lanskap melalui perbandingan foto masa lalu dan kondisi terkini dari lokasi yang sama (repeat photography). Pendekatan ini juga memperkuat hubungan antara arsip, ruang, dan pengalaman hidup masyarakat.

Kepala ANRI, Mego Pinandito, dalam sambutannya menegaskan bahwa arsip memiliki peran strategis dalam menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan.

“ANRI sangat mendukung berbagai upaya agar arsip bencana tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, terutama dalam membangun kehidupan yang lebih baik ke depan. Arsip harus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Direktur TDMRC, Syamsidik, menekankan pentingnya menjaga ingatan bencana sebagai bagian dari pembangunan budaya keselamatan (safety culture), terutama di tengah kecenderungan memudarnya ingatan antar generasi.

“Banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat cenderung semakin melupakan kejadian bencana besar yang pernah terjadi, terutama seiring dengan pergantian generasi. Buku ini menjadi salah satu upaya penting dalam membangun safety culture yang harus terus-menerus disampaikan dan diwariskan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala, Agussabti, yang mewakili Rektor Mirza Tabrani, mengapresiasi kolaborasi internasional di balik lahirnya buku ini.

“Kami menyampaikan apresiasi yang luar biasa atas inisiatif yang telah lama diinisiasi oleh Center for Southeast Asian Studies bersama para peneliti di Aceh. Ini menunjukkan pentingnya kerja kolaboratif lintas negara dalam pengembangan pengetahuan dan praktik kebencanaan,” ungkapnya.

Disebutkan, buku MemoryGraph merupakan hasil proses panjang berbasis pengalaman lapangan, mulai dari inisiatif Aceh Tsunami Mobile Museum, pengembangan pendekatan memory hunting, hingga lahirnya konsep MemoryGraph sebagai metode dokumentasi visual partisipatif. Buku ini disusun sebagai panduan praktis yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat, sekaligus membuka ruang pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

Dalam sesi diskusi publik, para narasumber yang juga penulis buku turut berbagi perspektif. Yoshimi Nishi menegaskan bahwa lanskap tidak hanya merepresentasikan ruang fisik, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan dan ingatan masyarakat. Ia menilai pendekatan visual seperti MemoryGraph mampu menjaga kesinambungan memori kebencanaan antar generasi.

Hal senada disampaikan Alfi Rahman yang menilai bahwa bencana tidak hanya menyebabkan kehilangan fisik, tetapi juga memori kolektif.

“Bencana bukan hanya menyebabkan kehilangan fisik, tetapi juga kehilangan memori. Lanskap merupakan penyimpan ingatan kolektif yang perlu dijaga dan didokumentasikan,” jelasnya.

Dari perspektif kearsipan, arsiparis Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI, Eka Husnul Hidayati, menyebut pendekatan MemoryGraph memperkaya praktik kearsipan melalui keterlibatan masyarakat.

“Arsip tidak hanya disimpan, tetapi juga perlu dihidupkan kembali dalam pengalaman masyarakat agar tetap relevan dan bermakna,” ujarnya.

Pandangan dari sisi literasi publik juga disampaikan oleh Yarmen Dinamika dan Rizka Puspitasari yang menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam mendokumentasikan dan mewariskan memori kebencanaan melalui pendekatan visual.

Buku MemoryGraph sendiri merupakan hasil kolaborasi antara ANRI melalui Balai Arsip Statis dan Tsunami, Center for Southeast Asian Studies, dan Universitas Syiah Kuala. Inisiatif ini juga melibatkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh serta Museum Tsunami Aceh sebagai bagian dari upaya bersama dalam merawat dan mendokumentasikan memori kebencanaan.

Melalui buku ini, berbagai pihak diharapkan memperoleh panduan praktis untuk memahami perubahan lanskap, memperkuat ingatan kolektif, serta meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.

Sebagai lembaga yang memiliki mandat dalam pengelolaan arsip statis nasional, ANRI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pemanfaatan arsip sebagai sumber pengetahuan, pembelajaran, dan penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana ke depan. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News