NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Kondisi kesehatan anak-anak korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang pasca bencana akhir November 2025 tergolong memprihatinkan. RSUD Aceh Tamiang mencatat lonjakan pasien anak yang datang berobat sejak rumah sakit kembali beroperasi pada 9 Desember 2025.
“Saat ini, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak untuk datang berobat ke RSUD,” ungkap dr. Arifin K. Kashmir, SpA., Mkes., Sp2, dokter spesialis anak sekaligus anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang sejak 27 Desember 2025, dikutip dari Kompas.com.
Berdasarkan catatan medis di rumah sakit tersebut, penyakit yang paling banyak diderita pasien anak meliputi diare akut, infeksi saluran pernapasan seperti batuk, pilek, dan pneumonia, serta gangguan kulit berupa gatal-gatal, iritasi, dan infeksi kulit.
“Penyebabnya sangat erat dengan kondisi pascabencana, seperti air bersih yang sangat terbatas aksesnya,” kata dr. Arifin.
Ia menjelaskan, kondisi pengungsian yang tidak optimal dari sisi sanitasi, lingkungan yang lembap dan becek saat hujan, serta berdebu ketika kering, turut mempercepat penyebaran penyakit. Kepadatan di lokasi pengungsian juga memperbesar risiko penularan, terutama bagi bayi dan balita.
“Anak-anak itu sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, kebersihan terganggu. Penyakit langsung muncul, terutama pada populasi bayi dan balita,” tuturnya.
Pelayanan Kesehatan Masih Terbatas
Meski RSUD Aceh Tamiang telah kembali beroperasi, layanan kesehatan masih dalam kondisi terbatas. Pelayanan dasar bagi pasien anak tetap dilakukan, seperti penanganan kegawatan awal, pengobatan infeksi ringan hingga sedang, serta pemantauan kondisi umum pasien.
Namun, untuk kasus anak dengan kondisi berat yang membutuhkan perawatan intensif atau peralatan khusus, pihak rumah sakit harus melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
“Hanya saja, untuk anak dengan kondisi yang lebih berat, misalnya dibutuhkan alat khusus, perawatan intensif, atau tindakan lanjutan yang lebih advance, kami terpaksa harus melakukan rujukan,” ujar dr. Arifin.
Tantangan Penanganan Pasien Anak
Penanganan pasien anak pascabencana menghadapi berbagai tantangan. Akses ke sejumlah wilayah di Aceh Tamiang masih sulit, menyebabkan sebagian anak datang berobat dalam kondisi berat atau bahkan tidak tertangani sama sekali.
“Ruang pelayanan dan perawatan kami, dari emergency sampai rawat inap, belum sepenuhnya ideal, dengan keterbatasan,” jelas dr. Arifin.
Selain itu, proses rujukan juga berjalan lambat akibat jarak yang jauh, keterbatasan kendaraan, dan antrean panjang di rumah sakit tujuan.
Masalah lain yang menjadi perhatian adalah penurunan gizi anak. Dalam kondisi pascabencana, kualitas dan keamanan makanan sering menurun, pola makan tidak sesuai usia, serta praktik pemberian makanan yang kurang higienis.
“Ini dapat memperberat penyakit seperti tadi, diare atau ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) sehingga kalaupun tidak akan berkontribusi terhadap penyebab, itu bisa memperlambat pemulihan anak dalam sakitnya,” ucap dr. Arifin.
Air Bersih dan Pencegahan Penyakit
Keterbatasan air bersih dan buruknya sanitasi di pengungsian menjadi kendala serius yang memperbesar risiko penyakit. Karena itu, para dokter anak tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga upaya pencegahan agar anak tidak terjebak dalam siklus sakit berkepanjangan.
“Jadi, pencegahan sama pentingnya dengan pengobatan,” tegas dr. Arifin.

