NUKILAN.ID | JAKARTA – Aktivis lingkungan sekaligus pendiri Chikigo, Chiki Fawzi, membagikan pengalaman emosionalnya saat turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak bencana ekologis di Sumatra. Kisah tersebut ia sampaikan dalam forum Semangat Awal Tahun 2026 yang digelar IDN Times.
Sejak akhir November 2025, Chiki telah melakukan perjalanan kemanusiaan ke berbagai daerah terdampak bencana, mulai dari Tapanuli Tengah, Langkat, Sibolga, hingga Aceh Tengah. Namun, menurut Chiki, kondisi paling memprihatinkan justru ia temukan di Aceh, khususnya Aceh Tamiang.
Perjalanan menuju Aceh Tamiang bukanlah hal mudah. Pada percobaan pertama, akses jalan menuju wilayah tersebut terputus akibat longsor. Ketika akhirnya berhasil masuk, pemandangan yang ia saksikan membuatnya terkejut.
“Pas sudah bisa dilalui mobil aku cukup kaget karena rusaknya itu sebegitu rusak jalannya. Terus pas masuk ke Aceh Tamiang lebih kaget lagi, karena ini satu kota tapi bener bener coklat dan bener-bener kota yang terendam lumpur,” ungkap Chiki.
Tak hanya kerusakan visual, kondisi lingkungan di lokasi juga meninggalkan kesan mendalam. Bau menyengat yang bercampur antara lumpur, debu, dan aroma bangkai semakin memperparah situasi. Kondisi menjadi kian sulit ketika hujan kembali mengguyur wilayah tersebut.
“Pas aku di sana aromanya tuh kayak aroma bangkai campur dengan aroma debu dan besoknya pas di Aceh Tamiang ternyata hujan lagi, jadi licin lagi. Jadi, aku melihat ini tempat yang sebenarnya sangat tidak layak karena kondisi yang seperti ini,” lanjutnya.
Chiki menegaskan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan Aceh, tetapi juga wilayah lain seperti Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Berdasarkan pengamatannya, luas wilayah terdampak di tiga provinsi tersebut mencapai skala yang sangat besar.
“Kalau di total, luas wilayah terdampak dari tiga provinsi ini mungkin sebesar Pulau Jawa. Ini adalah bencana ekologis yang luar biasa dampaknya,” kata Chiki.
Melalui media sosial, Chiki berharap lebih banyak masyarakat mengetahui kondisi nyata yang terjadi di Sumatra. Ia menilai, kepedulian dan bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi warga yang hingga kini masih bertahan di tengah lumpur dan kerusakan infrastruktur. (xrq)

