NUKILAN.ID | LANGSA – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Abu Syekh H. Muhammad Amin Waly atau yang lebih dikenal sebagai Abu Mudi, menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kemajuan umat Islam.
Pesan tersebut disampaikan di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri Pengajian Akbar Tastafi-Huda di Masjid Agung Darul Falah, Selasa (9/6/2026).
Dalam tausiahnya, Abu Mudi menyampaikan harapan besar yang selama ini menjadi cita-citanya bagi masyarakat Aceh.
“Cita terbesar saya, Aceh harus merdeka dari kejahilan,” ujar Abu Mudi yang disambut antusias oleh jamaah yang memadati area masjid.
Menurutnya, makna kemerdekaan tidak hanya terbatas pada terbebasnya suatu daerah dari penjajahan atau ketertinggalan pembangunan fisik. Kemerdekaan yang sesungguhnya, kata dia, adalah ketika masyarakat memiliki ilmu pengetahuan yang cukup, memahami ajaran agama dengan benar, serta mampu menjalani kehidupan sesuai tuntunan syariat Islam.
Pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu menjelaskan bahwa setiap muslim memiliki kewajiban untuk mempelajari tiga cabang ilmu dasar, yaitu tauhid, fikih, dan tasawuf. Ketiga ilmu tersebut, menurutnya, merupakan fondasi penting dalam membentuk pribadi muslim yang kuat akidahnya, benar ibadahnya, serta mulia akhlaknya.
“Ilmu yang wajib dipelajari itu ada tiga, yaitu tauhid, fikih, dan tasawuf. Tauhid membimbing kita mengenal Allah dengan benar, fikih mengajarkan tata cara ibadah dan muamalah, sedangkan tasawuf membentuk akhlak dan membersihkan hati. Ketiganya tidak boleh dipisahkan,” jelas Abu Mudi.
Abu Mudi yang juga dikenal sebagai pendiri gerakan Tastafi menuturkan bahwa lahirnya gerakan Tasawuf, Tauhid, dan Fikih (Tastafi) merupakan bagian dari ikhtiar para ulama Aceh dalam memperkuat pemahaman keislaman masyarakat berdasarkan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.
Ia menilai keberadaan majelis-majelis ilmu menjadi semakin penting di tengah perkembangan zaman yang kian kompleks. Arus informasi yang bergerak cepat, kemajuan teknologi digital, serta beragam pemahaman keagamaan yang beredar melalui media sosial menuntut masyarakat memiliki landasan ilmu yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang.
“Majelis ilmu merupakan benteng umat. Selama masyarakat dekat dengan ulama dan mencintai ilmu, insya Allah Aceh akan tetap terjaga sebagai negeri yang berpegang teguh kepada ajaran Islam,” katanya.
Lebih lanjut, Abu Mudi mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Aceh tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para ulama dalam membangun peradaban. Sejak masa Kesultanan Aceh hingga sekarang, dayah-dayah telah menjadi pusat pendidikan, dakwah, serta pembinaan masyarakat. Dari lembaga pendidikan tersebut lahir banyak ulama, pemimpin, dan tokoh masyarakat yang memberikan kontribusi besar bagi agama, bangsa, dan daerah.
Pada kesempatan itu, Abu Mudi juga menyampaikan amanah dari gurunya, almarhum Tgk. H. Abdul Aziz Samalanga, pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga sebelumnya. Salah satu pesan yang selalu diwariskan oleh beliau adalah pentingnya menjaga budaya “beut seumeubeut” atau belajar dan mengajar.
“Almarhum Abuya Abon Aziz selalu berpesan agar kita terus menghidupkan beut seumeubeut. Selama masyarakat mau belajar dan para guru terus mengajar, maka kejahilan akan dapat dilawan dan peradaban akan terus terjaga,” ungkap Abu Mudi.
Menurutnya, semangat beut seumeubeut telah menjadi ruh pendidikan dayah di Aceh selama berabad-abad. Dari tradisi tersebut lahir ulama, cendekiawan, dan berbagai tokoh yang berkontribusi bagi agama, bangsa, serta masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung pengembangan pendidikan Islam, baik melalui dayah, masjid, maupun majelis pengajian.
Abu Mudi menekankan bahwa investasi terbesar bagi masa depan Aceh bukan semata pembangunan infrastruktur, melainkan pembangunan sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak.
“Pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih penting. Jika masyarakat berilmu, beriman, dan berakhlak, maka berbagai persoalan sosial dapat diminimalkan. Dari sinilah lahir kemajuan yang sesungguhnya,” ujarnya.
Pengajian Akbar Tastafi-Huda tersebut turut dihadiri unsur ulama, umara, akademisi, serta berbagai lapisan masyarakat. Ribuan jamaah mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat sejak awal hingga akhir acara.
Melalui kegiatan itu, Abu Mudi berharap semangat menuntut ilmu terus tumbuh di tengah masyarakat. Ia meyakini bahwa kemajuan Aceh pada masa mendatang sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan kesungguhan masyarakat dalam mendekatkan diri kepada ilmu serta ulama.
“Selama majelis ilmu tetap hidup, selama masyarakat mencintai ulama dan pendidikan, maka harapan untuk mewujudkan Aceh yang maju, bermartabat, dan merdeka dari kejahilan akan selalu terbuka,” pungkas Abu Mudi.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News


