NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Musim kemarau yang berlangsung dalam waktu panjang tidak selalu membuat produksi kelapa sawit langsung turun. Meski kondisi kebun mulai ditandai dengan tanah yang mengering dan berkurangnya air, dampak kekeringan terhadap tanaman dapat bekerja secara bertahap melalui proses fisiologis hingga reproduksi.
Akibatnya, gangguan yang terjadi selama periode kering terkadang baru terlihat pada produksi tandan buah segar (TBS) beberapa bulan setelah kemarau berakhir.
Mengutip Sawitindonesia.com, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB, Dr. Idung Risdiyanto, S.Si., M.Sc., menjelaskan dalam wawancara dengan SawitIDN bahwa indikator kekeringan tidak hanya berkaitan dengan rendahnya curah hujan. Persoalan muncul ketika persediaan air di dalam tanah tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman.
Kondisi tersebut menyebabkan kelapa sawit mengalami stres air. Ketika kebutuhan air tanaman melebihi kemampuan akar dalam menyerapnya, sejumlah fungsi penting tanaman mulai terganggu.
Air diperlukan kelapa sawit untuk mendukung fotosintesis, mendistribusikan unsur hara, serta menunjang pertumbuhan vegetatif dan reproduktif. Saat pasokan air terbatas, tanaman akan melakukan berbagai mekanisme untuk mengurangi kehilangan air, salah satunya dengan mempersempit bukaan stomata pada daun.
Mekanisme tersebut memang membantu tanaman mempertahankan air. Namun, pada saat bersamaan, berkurangnya bukaan stomata juga membatasi masuknya karbon dioksida yang diperlukan dalam proses fotosintesis. Jika kondisi itu berlangsung cukup lama, produksi energi untuk menunjang pertumbuhan tanaman ikut mengalami penurunan.
Namun, gangguan fisiologis tersebut belum tentu langsung tercermin pada hasil panen. Kelapa sawit mempunyai siklus reproduksi yang relatif panjang sehingga tandan yang dipanen pada suatu waktu merupakan hasil dari proses pembentukan bunga dan buah yang telah berlangsung jauh sebelumnya.
Dengan demikian, ketika tanaman mulai mengalami tekanan akibat kekurangan air, sebagian tandan yang sudah memasuki tahap perkembangan lanjut masih dapat tumbuh hingga akhirnya dipanen. Kondisi ini membuat produksi pada saat kemarau terkadang masih tampak normal.
Persoalan dapat muncul pada bunga yang sedang berada dalam tahap pembentukan dan perkembangan. Dalam wawancara Sawit Talk, Idung menyebut kekurangan air dapat memberikan pengaruh terhadap proses pembungaan tanaman kelapa sawit.
Dari sisi fisiologis, ketersediaan air dapat berpengaruh terhadap inisiasi serta perkembangan bunga, komposisi bunga jantan dan betina, hingga perkembangan infloresens atau kumpulan bunga yang berada dalam satu struktur atau tangkai.
Sejumlah penelitian juga memperlihatkan bahwa tekanan akibat kekeringan pada fase tertentu dapat menurunkan persentase bunga betina dan meningkatkan kecenderungan terbentuknya bunga jantan. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi mengurangi pembentukan tandan pada periode berikutnya.
Rangkaian dampaknya dapat dipahami secara sederhana. Kemarau yang berlangsung panjang menurunkan ketersediaan air di dalam tanah. Kondisi tersebut memicu stres air pada tanaman, yang kemudian dapat mengganggu fotosintesis dan pertumbuhan. Gangguan tersebut selanjutnya berpengaruh terhadap pembungaan dan perkembangan tandan hingga akhirnya tercermin pada produksi.
Karena itu, turunnya hujan setelah periode kemarau belum tentu langsung menghilangkan risiko terhadap produksi sawit. Meskipun air kembali tersedia, gangguan terhadap proses reproduksi yang telah terjadi sebelumnya tetap dapat berlanjut dan baru terlihat pada hasil panen beberapa bulan kemudian.
Tingkat dampak kekeringan juga berbeda antara satu kebun dan kebun lainnya. Durasi musim kering, karakteristik dan kemampuan tanah dalam menyimpan air, usia tanaman, kondisi akar, serta pola pengelolaan kebun menjadi sejumlah faktor yang menentukan seberapa besar tanaman terdampak.
Pengelolaan kondisi kebun sebelum tanaman mengalami stres berat menjadi salah satu langkah penting menghadapi periode kering. Pekebun dapat menjaga kelembapan tanah, mempertahankan penutup tanah dan bahan organik, serta melakukan pemantauan terhadap kondisi curah hujan.
Pemahaman mengenai dampak kekeringan yang bersifat tertunda juga penting bagi pekebun. Penurunan produksi TBS yang terjadi setelah musim kemarau belum tentu merupakan akibat kondisi cuaca pada saat panen, melainkan dapat menjadi dampak dari tekanan air yang dialami tanaman beberapa waktu sebelumnya.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

