Penjualan Bendera di Banda Aceh Lesu, Pedagang Sebut Omzet Turun Drastis

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Penjualan bendera Merah Putih di Banda Aceh menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 mengalami penurunan. Pedagang mengaku permintaan dari masyarakat umum tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Tika, salah seorang pedagang bendera di Banda Aceh, mengatakan penurunan paling terasa pada pembelian dari masyarakat yang biasanya memasang bendera di depan rumah.

“Kalau dari masyarakat umum memang sangat kurang. Tahun lalu masih lumayan banyak masyarakat yang memasang bendera di depan rumah. Tahun ini jauh lebih sepi,” kata Tika kepada Nukilan, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Tika, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang. Ia menyebut keuntungan dari penjualan bendera tahun ini turun cukup signifikan.

“Penurunannya jauh sekali dibandingkan tahun lalu. Dari yang saya dengar, teman-teman pedagang lainnya juga merasakan penurunan penjualan tahun ini,” ujarnya.

Tika mengatakan dirinya telah berjualan bendera di lokasi tersebut selama sekitar sembilan tahun. Berdasarkan pengalamannya, penjualan dalam dua tahun terakhir menjadi yang paling rendah.

Ia menyebut pembeli masih berasal dari sejumlah kantor, sekolah dan instansi lainnya. Namun, jumlah pembelian dari masyarakat umum jauh lebih rendah.

“Masih ada pembeli dari kantor-kantor, sekolah dan instansi. Tetapi kalau masyarakat umum memang sangat sedikit tahun ini,” ujarnya.

Meski penjualan belum sesuai harapan, Tika masih berharap permintaan meningkat dalam beberapa hari menjelang 17 Agustus. Berdasarkan pengalamannya, puncak penjualan biasanya berlangsung sejak awal Agustus hingga hari kemerdekaan.

“Biasanya penjualan mulai ramai sekitar 5 Agustus dan terus meningkat sampai 17 Agustus. Jadi kami masih berharap beberapa hari ke depan pembeli akan bertambah,” tuturnya.

Untuk memenuhi kebutuhan dagangan, Tika mendatangkan kain bendera dari konveksi di Pulau Jawa. Ia mengatakan harga kain di daerah menjadi salah satu pertimbangan pedagang mengambil bahan dari luar Aceh.

“Kami mengambil kain dari konveksi di Jawa karena harga kain di sini relatif lebih mahal. Jadi lebih memungkinkan bagi kami mengambilnya dari Jawa,” katanya.

Di tengah penjualan yang menurun, Tika memilih tetap bersyukur karena masih mendapatkan pembeli.

“Alhamdulillah, masih ada rezeki. Berapa pun hasilnya tetap kami syukuri,” ujarnya. []

Reporter: Sammy

Read more

Local News