NUKILAN.ID | MEUREUDU – Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CI-BEST) IPB University terus mendorong penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan ekosistem beras berbasis pesantren. Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dijalankan bersama Bank Indonesia di Pondok Pesantren Ummul Ayman III, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Program ini memanfaatkan varietas padi unggul hasil inovasi IPB University sebagai bagian dari strategi meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar.
Pada kegiatan panen demonstration farm yang berlangsung pada 8 Juni lalu, tim IPB University memperkenalkan dua varietas padi unggulan, yakni IPB 13S dan IPB 15S. Varietas IPB 13S menjadi salah satu inovasi yang mendapat perhatian karena memiliki potensi hasil mencapai 11 hingga 11,5 ton per hektare berdasarkan hasil pengujian sebelumnya.
Koordinator Rumpun Peneliti Padi IPB University sekaligus perwakilan CI-BEST IPB University, Ahmad Junaedi, menjelaskan bahwa varietas tersebut merupakan generasi padi tipe baru yang dirancang untuk menjawab berbagai tantangan pertanian di masa depan.
“IPB 13S merupakan varietas cerdas iklim yang memiliki produktivitas tinggi, lebih hemat penggunaan pupuk dan air, serta mampu beradaptasi terhadap kondisi kekeringan. Inovasi ini diharapkan dapat membantu petani menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani,” ujarnya.
Selain memperkenalkan varietas unggul, IPB University juga menerapkan teknologi bioimunisasi tanaman serta memberikan pendampingan budidaya modern kepada para petani. Sebagai bagian dari penguatan pertanian presisi, tim memasang automatic weather station (AWS) yang memungkinkan petani memantau kondisi cuaca secara real-time melalui telepon pintar.
Teknologi tersebut dinilai mampu membantu petani mengantisipasi berbagai risiko pertanian, mulai dari kekeringan, serangan hama dan penyakit tanaman, hingga cuaca ekstrem yang berpotensi memengaruhi hasil panen.
Program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas budidaya, tetapi juga membangun ekosistem bisnis beras yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dukungan yang diberikan mencakup penyediaan benih unggul, pendampingan budidaya, penguatan pascapanen, hingga pengolahan hasil panen melalui rice milling unit (RMU) dengan kapasitas 1,5 ton per jam.
Saat ini, Pondok Pesantren Ummul Ayman mengelola sekitar 80 hektare lahan sawah yang dikerjakan bersama masyarakat sekitar dan para guru pesantren. Pengelolaan lahan tersebut mampu memenuhi kebutuhan konsumsi internal pesantren yang mencapai sekitar satu ton beras per hari, sekaligus menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.
Perwakilan Bank Indonesia, Yason Taufik Akbar, menegaskan bahwa penguatan sektor pangan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas inflasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui program ini, kami tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat tata niaga, kelembagaan, dan jejaring usaha pesantren agar tercipta model bisnis yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di berbagai daerah,” ujarnya.
Kegiatan panen tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Munawar Ibrahim, bersama jajaran pemerintah daerah, Baitul Mal Aceh, kelompok tani, alumni IPB University, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda Pidie Jaya menyampaikan bahwa keberhasilan demonstration farm menjadi simbol kebangkitan sektor pertanian daerah setelah wilayah tersebut terdampak banjir.
Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis GNPIP sendiri merupakan kolaborasi yang telah dikembangkan sejak 2024 oleh Bank Indonesia bersama IPB University. Saat ini program tersebut telah diterapkan di berbagai pesantren mitra yang berada di Aceh, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Ruang lingkup program mencakup penguatan budidaya, pascapanen, hilirisasi produk, pengembangan kelembagaan usaha, perluasan akses pasar, hingga dukungan pembiayaan. Melalui pendekatan tersebut, program diharapkan dapat menjadi model pengembangan ekonomi pesantren yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (xrq)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News


