NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Widjaja Kamdani, meninjau langsung produk UMKM Perempuan Aceh dalam kegiatan Business Forum DPP APINDO Aceh yang berlangsung di Grand Hotel Permata Hati, Kamis (21/5/2026).
Amatan Nukilan.id di lokasi, tampak Shinta Widjaja Kamdani melihat berbagai produk unggulan UMKM dan memegang tas fesyen serta dompet bermotif Aceh.
Ia memberikan apresiasi terhadap kualitas produk lokal tersebut, termasuk kemasan yang dinilainya sudah berkelas dan memiliki daya saing.
Sebelumnya, dalam forum bisnis tersebut, Shinta hadir sebagai pembicara utama dan memaparkan kondisi ekonomi Aceh yang saat ini diperkirakan bernilai sekitar Rp257 triliun.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Aceh dalam beberapa tahun terakhir berada pada kisaran 4 persen, sementara pada 2025 tercatat sebesar 2,97 persen, masih di bawah rata-rata nasional.
Menurutnya, struktur ekonomi Aceh masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mencapai sekitar 52 persen. Meski demikian, sektor industri pengolahan menjadi salah satu bidang dengan pertumbuhan tertinggi dan berpotensi menjadi penggerak ekonomi daerah ke depan.
Shinta juga menyoroti kekuatan ekspor Aceh yang dinilai cukup dominan dalam menopang perekonomian daerah.
“Aktivitas ekspor Aceh mencapai sekitar 66 persen dari total ekonomi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah komoditas unggulan Aceh seperti kopi Gayo dan minyak nilam telah berhasil menembus pasar internasional, termasuk kawasan Eropa dan Asia.
Selain itu, sektor kelautan dan perikanan juga memiliki prospek yang sangat besar karena didukung oleh garis pantai yang panjang serta luasnya kawasan tambak yang tersedia.
Di bidang pariwisata, Aceh dinilai memiliki potensi ekowisata dan wisata bahari kelas dunia. Salah satu destinasi yang mendapat perhatian adalah Pulau Weh di Sabang yang telah dikenal sebagai tujuan diving dan snorkeling bertaraf internasional.
Selain sektor-sektor tersebut, Shinta juga menyinggung peluang ekonomi hijau yang dapat dikembangkan Aceh melalui bioenergi dan industri pengolahan hasil laut berbasis keberlanjutan.
Dalam forum itu, Shinta menilai ekonomi syariah merupakan salah satu kekuatan strategis Aceh untuk meningkatkan daya saing global, seiring dengan pertumbuhan industri halal dunia yang terus berkembang.
Ia menyebut Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Index dengan potensi besar pada sektor makanan halal, keuangan syariah, serta industri pendukung lainnya.
Menurutnya, Aceh memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi modal utama pengembangan ekonomi syariah, mulai dari ketersediaan tenaga kerja, akses pembiayaan, proses produksi, hingga posisi geografis yang strategis sebagai pintu ekspor internasional.
Shinta juga menyoroti kondisi ketenagakerjaan di Aceh. Ia menyebut tingkat pengangguran mengalami penurunan dari 6,3 persen pada 2021 menjadi 5,6 persen pada 2025. Namun demikian, tingginya jumlah pekerja informal yang mencapai hampir 58 persen masih menjadi tantangan serius bagi pembangunan ekonomi daerah.
“Kita tidak bisa hanya melihat pengangguran terbuka, tetapi juga tingginya informalitas tenaga kerja,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai penguatan kewirausahaan dan UMKM menjadi solusi penting dalam menciptakan lapangan kerja baru.
Menurutnya, sektor UMKM memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, meskipun kontribusinya terhadap ekspor masih perlu terus ditingkatkan.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News


