NUKILAN.ID | MEKAH — Perjalanan Hartati Musirun Mukmin menuju Tanah Suci tidak dimulai dari kondisi yang serba berkecukupan. Jemaah haji asal Aceh Tamiang itu justru memulai langkahnya dari situasi penuh keterbatasan, setelah rumah warisan orang tuanya diterjang banjir bandang dan longsor, dokumen penting hanyut, hingga biaya pelunasan haji belum sepenuhnya tersedia.
Enam bulan lalu, musibah banjir bandang melanda kediamannya. Lumpur menimbun rumah tersebut hingga setinggi leher orang dewasa, membuat seluruh barang di dalam rumah tidak sempat diselamatkan.
“Air itu tiba-tiba langsung sreeet (menerjang) gitu naik. Jadi kami enggak bisa lagi sempat nyingkirkan (menyelamatkan). Barang tuh udah langsung habis, jadi nggak bisa diamankan lagi,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari MI, Kamis (14/5/2026).
Tidak hanya perabot rumah tangga yang hilang, berbagai dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, hingga berkas pendaftaran haji juga ikut hanyut terbawa banjir. Dalam situasi sulit tersebut, Hartati mengaku hanya bisa berserah kepada Tuhan.
“Saya pun nggak tahu ke mana saya harus mengadu. Cuma saya mengadunya sama Allah,” ujarnya lirih.
Perempuan berusia 56 tahun itu mengaku hingga kini belum mampu memperbaiki rumahnya. Sejak sang suami, Muhammad Sofyan, meninggal dunia pada 2014, Hartati harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri dengan kondisi ekonomi yang terbatas.
“Rumahnya belum bisa saya perbaiki, karena uang pun nggak ada untuk perbaiki rumah,” tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, keberangkatannya ke Tanah Suci sempat terancam karena masih kekurangan sekitar Rp17 juta untuk pelunasan biaya haji. Namun, ketiga anaknya bergotong royong membantu agar sang ibu tetap dapat memenuhi panggilan ibadah.
“Dengan izin Allah, karena panggilan Allah, berkat anak-anak saya, saya bisa ke sini,” katanya sambil menahan haru.
Hartati mengaku sempat sulit percaya ketika akhirnya mendapat kepastian berangkat haji tahun ini. Pasca bencana, ia bahkan tidak tahu dari mana biaya pelunasan akan diperoleh.
“Karena kita tuh nggak tahu uang di mana, ya saya bilang, Insya Allah, bu, mudah-mudahan ada rezeki dari mana. Saya bilang kayak gitu,” ujarnya.
Selain persoalan biaya, proses pengurusan dokumen juga menjadi tantangan tersendiri. Beruntung, data kependudukan Hartati masih tersimpan dalam sistem pemerintah sehingga proses pencetakan ulang dokumen dapat dilakukan dengan cepat.
Koordinator dan Pengendali Jemaah Haji Aceh, Jamaluddin Affan Asyi, mengatakan pemerintah Aceh bersama pihak Imigrasi bergerak cepat membantu para jemaah korban banjir agar tetap dapat berangkat ke Tanah Suci.
“Maka, jamaah haji Aceh cukup mencocokkan ulang sidik jari mereka di Dispendukcapil. Dari situ datanya langsung keluar semua,” tutur Jamal.
Bahkan, proses pengurusan dokumen sempat dilakukan di sebuah warung kopi yang masih memiliki sambungan internet setelah bencana melanda wilayah tersebut.
Jamaluddin juga mengungkapkan bahwa dampak bencana di Aceh Tamiang sangat berat. Dari sekitar 150 calon jemaah haji di daerah tersebut, pada tahap awal pelunasan hanya satu orang yang mampu melunasi biaya keberangkatan.
“Tamiang itu adalah daerah yang sangat-sangat berat bencana, di sana ada jemaah haji 150 jemaah haji pada saat pelunasan pertama, ya hanya baru satu orang,” ungkapnya.
Melihat kondisi itu, pemerintah menerapkan strategi jemput bola. Tim Kementerian Haji dan Umrah bersama pemerintah daerah turun langsung ke lapangan untuk membantu proses istita’ah kesehatan hingga koordinasi dengan pihak perbankan agar pelunasan dapat dipermudah.
Kini, di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara yang memadati Kota Mekah, Hartati menjalani ibadah dengan penuh rasa syukur. Musibah yang menimpa hidupnya tak lagi menjadi beban yang terus diratapi.
“Walaupun saya nggak ada rumah, saya lebih dekat sama Allah,” ucapnya pelan.
Saat berada di Tanah Suci, Hartati juga menerima bantuan dana wakaf sebesar 2.000 ريال Saudi dari Waqaf Baitul Asyi. Sebagian dana tersebut digunakan untuk kebutuhan selama berhaji, sementara sisanya ingin ia simpan sebagai bekal hidup setelah kembali ke Indonesia.
Di balik seluruh kehilangan yang dialaminya, Hartati tetap percaya bahwa selalu ada jalan bagi mereka yang yakin pada pertolongan Tuhan. Baginya, panggilan berhaji bukan semata tentang kemampuan materi.
“Mungkin pulang dari sini saya dapat rezeki. Entah rezeki apa saya nggak tahu, rahasia Allah. Cuma saya yakin saya pulang dari sini saya dapat rezeki dari Allah,” katanya.
Dari Kota Mekah, Hartati juga menitipkan pesan bagi masyarakat agar tidak takut bermimpi menunaikan ibadah haji meski sedang berada dalam kondisi sulit.
“Kan Allah itu Maha Kaya. Betul tidak?” tutupnya.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

