NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang terus mengubah lanskap kehidupan masyarakat, lembaga pendidikan Islam dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Dalam konteks tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Nahdlatul Ulama (STISNU) Aceh hadir sebagai jawaban atas kebutuhan zaman: merawat warisan keilmuan Islam (turats) sekaligus menjawab tantangan masa depan.
Berdirinya STISNU Aceh tidak terlepas dari peran Ketua PWNU Aceh, Tgk H Faisal Ali, yang akrab disapa Abu Sibreh. Ia dikenal konsisten memperjuangkan penguatan pendidikan Islam berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah, tidak hanya di lingkungan dayah, tetapi juga melalui pengembangan pendidikan tinggi yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Berdirinya STISNU Aceh bukan sekadar menghadirkan kampus, tetapi ikhtiar panjang menjaga kesinambungan turats dan menjawab kebutuhan zaman. Pendidikan dayah harus terhubung dengan sistem akademik yang kuat, agar lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi umat,” ujar Abu Sibreh, Ahad (12/4/2026).
STISNU Aceh tidak sekadar menjadi institusi pendidikan tinggi, tetapi juga simbol ikhtiar ulama Aceh dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang telah mengakar sejak lama. Kampus ini juga menjadi ruang transformasi bagi generasi muda untuk memahami agama secara mendalam sekaligus kontekstual.
Salah satu fondasi penting lahirnya STISNU Aceh adalah peran Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Sibreh, Aceh Besar, yang dipimpin langsung oleh Abu Sibreh. Dayah ini menjadi pusat pengkaderan santri dalam tradisi kitab kuning sekaligus ruang integrasi antara sistem pendidikan dayah dan pendidikan modern. Dari rahim dayah inilah lahir gagasan besar integrasi keilmuan yang kemudian melahirkan STISNU Aceh sebagai bentuk pengembangan pendidikan Islam yang lebih luas dan terstruktur.
Di tengah kesibukannya memimpin dayah dan menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Abu Sibreh terus mendorong lahirnya generasi ulama-intelektual yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Baginya, pendidikan menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam di tengah perubahan zaman.
Dukungan terhadap penguatan STISNU Aceh juga datang dari Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen. Ia menilai kampus ini memiliki posisi strategis dalam mencetak kader ulama dan intelektual Nahdliyin yang tetap berakar pada tradisi.
“Penguatan pendidikan berbasis turats menjadi sangat penting agar generasi kita tetap memiliki identitas keilmuan yang kuat, meskipun berada di tengah arus globalisasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, STISNU Aceh menjadi ruang temu antara tradisi lokal dan pengalaman global, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi pelanjut, tetapi juga diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan dalam dunia pendidikan Islam.
Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Aceh, Tgk Muhammad Yasir, yang juga menjabat sebagai Ketua STISNU Aceh. Ia menegaskan bahwa kampus ini dirancang sebagai jembatan antara dunia dayah dan perguruan tinggi modern.
Menurutnya, pendidikan Islam tidak boleh berjalan secara dikotomis antara tradisional dan modern. Keduanya harus dipadukan agar melahirkan generasi yang utuh—kuat dalam turats sekaligus mampu menjawab persoalan kontemporer.
“STISNU Aceh hadir untuk mencetak generasi yang tidak hanya memahami kitab kuning, tetapi juga mampu membaca realitas sosial dan memberikan solusi yang relevan,” jelasnya.
Sebagai bagian dari penguatan akademik, STISNU Aceh terus mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman, mulai dari jenjang sarjana hingga magister. Pada tingkat sarjana (S1), tersedia program Hukum Keluarga Islam, Hukum Ekonomi Syariah, Manajemen Zakat dan Wakaf, Pendidikan Agama Islam, serta Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Sementara pada jenjang magister (S2), STISNU Aceh telah membuka program Hukum Keluarga Islam sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas keilmuan dan mencetak kader ulama serta akademisi di bidang syariah. Pembukaan program pascasarjana ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan STISNU Aceh, sekaligus menunjukkan komitmen institusi untuk terus berkembang.
Di tengah penguatan tersebut, muncul pula tokoh muda seperti Tgk Emi Yasir, seorang hafiz alumni Al-Azhar yang aktif mendorong integrasi antara sistem pendidikan dayah dan kampus modern. Ia dinilai sebagai representasi generasi muda progresif Aceh dengan perspektif global.
“Kita harus menguasai ilmu agama secara mendalam, tapi juga memahami perkembangan dunia. Di situlah letak kekuatan kita,” ujarnya.
Sebagai Ketua Program S2 Hukum Keluarga Islam, ia menambahkan bahwa penguatan akademik harus berjalan seiring dengan penguatan nilai dan karakter.
Tidak hanya fokus pada aspek akademik, STISNU Aceh juga mengembangkan konsep Dayah Mahasiswa sebagai program unggulan. Konsep ini menjadi ciri khas yang mengintegrasikan sistem pendidikan dayah dengan perguruan tinggi.
Menurut Tgk Emi, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran formal di kelas, tetapi juga pembinaan spiritual, penguatan akhlak, serta pendalaman kitab kuning sebagaimana tradisi dayah. Dengan demikian, lulusan STISNU Aceh diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Di tengah tantangan globalisasi, digitalisasi, serta perubahan sosial yang cepat, STISNU Aceh dinilai semakin relevan. Kampus ini hadir sebagai benteng nilai sekaligus jembatan menuju masa depan—menjaga turats agar tetap hidup dan menjawab kebutuhan zaman dengan pendekatan yang bijak.
Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Aceh, Tgk Emi, menegaskan bahwa STISNU Aceh juga menjadi simbol harapan bagi kebangkitan pendidikan Islam di Aceh.
“Dengan dukungan para ulama, akademisi, dan generasi muda, STISNU Aceh terus melangkah memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan yang adaptif, progresif, dan berakar kuat pada tradisi,” katanya.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News



