Tengku Razuan Sukses Bawa Nilam Aceh ke Pasar Dunia

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Komoditas minyak nilam Aceh kian diminati pasar internasional. Berangkat dari rasa penasaran terhadap potensi tanaman tersebut, Tengku Razuan kini sukses mengembangkan usaha nilam hingga menjadi produsen sekaligus eksportir.

Mengutip Rmol, melalui perusahaan yang dipimpinnya, Razma Agro Jayana, Razuan mengembangkan bisnis aromatik yang memasok bahan baku minyak nilam untuk industri fragrance, beauty, dan wellness global.

Dalam kunjungan yang difasilitasi International Labour Organization bersama sejumlah wartawan beberapa waktu lalu, Razuan menceritakan awal ketertarikannya terhadap komoditas yang dikenal sebagai salah satu minyak atsiri terbaik di dunia.

“Saya mulai akhir 2020, masih skala kecil sebatas uji coba. Dasarnya cuma penasaran. Katanya ini komoditas terbaik dunia, tapi kenapa skala pertaniannya kecil-kecil,” kata Razuan kepada awak media.

Ketertarikannya semakin kuat setelah mendengar pemaparan tim Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala yang menyebut satu hektare tanaman nilam mampu mencukupi kebutuhan hidup seorang petani selama satu tahun.

Pada 2021, ia mulai menanam nilam di lahan seluas satu hektare. Hasil yang diperoleh dinilai cukup menjanjikan, meskipun terdapat perbedaan antara perhitungan teori dan kondisi di lapangan.

Seiring waktu, Razuan memperluas area budidaya dari satu hektare menjadi lima hektare, kemudian meningkat hingga 12 hektare, dan mencapai sekitar 20 hektare pada 2025. Pengembangan ini dilakukan bersama kelompok petani muda.

“Awalnya sekadar ingin menjawab rasa penasaran. Tapi setelah mendapat jawaban konkret di lapangan, kami memutuskan melanjutkan dan membangun bisnis ini secara serius,” kata Razuan.

Perjalanan usahanya dimulai dari level petani, lalu berkembang ke proses penyulingan, pengumpulan minyak nilam, hingga membuka akses pasar ekspor. Meski masih dalam tahap pengembangan, ia mengaku telah memahami pola besar bisnis nilam, termasuk tantangan klasik berupa fluktuasi harga.

Menurutnya, kebutuhan minyak nilam dunia diperkirakan mencapai 2.000 hingga 2.500 ton per tahun, sementara pasokan baru berkisar 1.000 hingga 1.200 ton.

Di sisi lain, petani masih menghadapi sejumlah kendala seperti harga yang tidak stabil, ketidakpastian pasar, serta keterbatasan akses permodalan.

“Sekarang pembeli luar negeri tidak hanya tanya harga. Mereka tanya siapa petaninya, kapan tanamnya, bagaimana prosesnya. Semua harus jelas,” ujarnya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Razuan menerapkan pola kontrak farming yang memberikan kepastian pembeli dan harga minimum bagi petani. Selain itu, perusahaan juga membantu membuka akses pembiayaan melalui lembaga keuangan.

Ia menjelaskan, biaya penanaman nilam untuk satu hektare lahan secara tradisional mencapai sekitar Rp50 juta, bahkan bisa hingga Rp70 juta dengan sistem semi-intensif.

Dengan produktivitas rata-rata 200 hingga 300 kilogram per tahun dari dua kali panen, petani berpotensi memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp10 juta per bulan, tergantung harga jual minyak nilam.

“Kalau satu hektare itu, meskipun hanya menghasilkan 150 kilogram per tahun, pendapatannya sudah setara upah minimum,” ujarnya.

Memasuki 2026, sekitar 500 petani dengan luas lahan mencapai 592 hektare di delapan kabupaten/kota di Aceh telah terintegrasi dalam sistem digital Razma Digitalize Nilam Ecosystem. Sistem ini dirancang untuk memastikan keterlacakan rantai pasok nilam, mulai dari penanaman hingga penyulingan.

Menurut Razuan, integrasi rantai pasok menjadi syarat utama untuk menembus pasar global. Hal ini karena sekitar 90 persen produk parfum dunia menggunakan minyak nilam sebagai bahan dasar atau pengikat aroma (fixative) yang belum sepenuhnya tergantikan bahan sintetis.

Dari minyak nilam mentah bahkan dapat dihasilkan hingga 16 turunan bahan baku untuk berbagai industri.

“Kalau rantai pasok terintegrasi dengan baik, nilam Aceh nilainya tidak terhingga. Dunia butuh minyak nilam, dan minyak nilam dunia butuh nilam dari Aceh,” katanya.

Saat ini, pasar ekspor perusahaan tersebut mencakup sejumlah negara seperti China, Singapura, India, Amerika Serikat, serta beberapa negara di Eropa.

Bagi Razuan yang berasal dari Aceh Selatan, daerah yang sejak lama dikenal sebagai sentra nilam, pengembangan komoditas ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga upaya menjawab persoalan lama yang dihadapi petani.

“Persoalan nilam dari dulu sampai sekarang sama, yaitu fluktuasi harga yang ekstrem. Saya bagian dari keluarga besar orang bernilam, jadi ini juga bentuk tanggung jawab moral,” kata Razuan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img

Read more

Local News