NUKILAN.ID | SIGLI – Petani padi sawah di Aceh tengah memasuki panen raya musim rendengan, atau musim tanam utama. Setelah panen ini, mereka berharap bisa segera menyiapkan sawah untuk musim gadu, yang diperkirakan berlangsung pertengahan April hingga Mei 2026.
Lokasi panen raya saat ini tersebar di beberapa kabupaten, termasuk Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, Aceh Tamiang, dan Aceh Selatan. Namun, kondisi yang seharusnya menggembirakan ini justru memunculkan kekhawatiran. Harga gabah terus mengalami penurunan yang signifikan, membuat petani resah.
Mengutip Media Indonesia, pada Selasa dan Rabu (8/4) di Kabupaten Pidie, harga gabah kering panen berada di kisaran Rp 7.000–Rp 7.100 per kilogram, lebih rendah dibandingkan awal panen sekitar dua pekan lalu yang mencapai Rp 7.400 per kilogram.
Tidak ada penjelasan pasti mengenai penyebab penurunan harga yang cukup drastis dalam waktu singkat ini. Apakah karena berkurangnya serapan beras atau ulah tengkulak dan permainan pasar, masih menjadi pertanyaan.
“Pada awal musim padi di akhir bulan Ramadhan tiga pekan lalu harga gabah mencapai Rp 7.400/kg, sekarang menurun drastis menjadi Rp 7.000/kg. Penurunan dalam tempo waktu cukup singkat itu sangat meresahkan petani,” kata Muhammad Nasir, tokoh masyarakat petani di Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie.
Penurunan harga terjadi bertahap sejak awal Lebaran 1447 H. Menjelang lima hari Lebaran, harga gabah kering panen berada di kisaran Rp 7.300/kg. Tiga hari setelah Idulfitri, turun menjadi Rp 7.200/kg, kemudian pekan kedua Lebaran turun lagi menjadi Rp 7.100/kg, dan kini bercokol di posisi Rp 7.000/kg.
Kondisi ini membuat petani di Aceh semakin khawatir. Mereka takut harga gabah musim rendengan kali ini bakal turun lebih jauh seiring dengan panen raya di Aceh Utara dan Aceh Timur.
Ridwan, petani di Kecamatan Indrajaya, mengatakan penurunan harga gabah saat panen raya memang sudah kerap terjadi. Para pedagang pengumpul atau tengkulak biasanya menggunakan dua alasan. Pertama, mengaku stok gabah melimpah karena panen raya. Kedua, alasan keterbatasan dana untuk membeli.
“Dengan gertakan atau menakut-nakuti begitu, akhirnya petani terpaksa menjual walau harga lebih rendah dari sebelumnya. Mana mungkin harga gabah berpengaruh besar hanya karena musim panen di Aceh. Sebab beras dari Aceh juga dipasok ke pasar luar daerah, seperti Sumatera Utara dan provinsi lainnya,” tutur Ridwan.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News



