NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Perhubungan Aceh mencatat lonjakan signifikan arus mudik dan arus balik Lebaran Idul Fitri 2026. Pergerakan kendaraan di ruas Tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh) mencapai 201.670 kendaraan selama periode angkutan lebaran.
Peningkatan ini dipicu oleh beroperasinya akses tol hingga Padang Tiji yang mempermudah konektivitas menuju Banda Aceh. Akses yang lebih cepat dan efisien turut mendorong tingginya mobilitas masyarakat, baik untuk mudik maupun kunjungan wisata.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal ST.MT., Jumat (3/4/2026) mengatakan, tingginya angka tersebut menunjukkan mobilitas masyarakat yang semakin dinamis seiring membaiknya infrastruktur.
“Pergerakan kendaraan pada masa mudik dan arus balik lebaran tahun ini sangat tinggi. Kehadiran tol sangat membantu distribusi perjalanan masyarakat sehingga arus lalu lintas dapat terurai dengan lebih baik,” ujar Faisal.
Berdasarkan data PT Hutama Karya selaku operator tol, puncak pergerakan kendaraan terjadi pada 24 Maret 2026 dengan total 18.058 kendaraan dalam satu hari. Gerbang Tol Padang Tiji menjadi titik tersibuk dengan total 87.780 kendaraan selama periode lebaran. Secara keseluruhan, lalu lintas tol meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain kendaraan pribadi, mobilitas masyarakat juga terlihat tinggi pada berbagai moda transportasi. Pada angkutan darat, jumlah penumpang mencapai 107.648 orang atau meningkat 15,4 persen dibandingkan tahun lalu. Puncaknya terjadi pada 17 Maret 2026 dengan 9.285 penumpang.
Pergerakan ini dilayani melalui sejumlah terminal tipe A seperti Batoh, Lhokseumawe, Paya Ilang, Langsa, dan Meulaboh, serta terminal tipe B di antaranya Sigli, Aceh Tamiang, Calang, Abdya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Bireuen, dan Terminal L300 Lueng Bata.
Sementara itu, angkutan laut mencatat 65.703 penumpang, dengan puncak pada 28 Maret 2026 sebanyak 7.414 penumpang. Layanan ini beroperasi melalui pelabuhan Ulee Lheue, Balohan, Lamteng, Calang, Labuhan Haji, Sinabang, Singkil, dan Pulau Banyak.
Adapun angkutan udara mencatat 40.887 penumpang atau meningkat 2,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Puncak arus terjadi pada 14 Maret 2026 dengan 3.071 penumpang, yang dilayani melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Malikussaleh, Rembele, Cut Nyak Dhien, dan Lasikin.
“Ini menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat selama lebaran tidak hanya didominasi kendaraan pribadi, tetapi juga didukung oleh angkutan umum di semua moda yang tetap tinggi,” kata Faisal.
Ia menambahkan, angka mobilitas tersebut berpotensi jauh lebih besar jika dihitung bersama pengguna kendaraan pribadi di seluruh ruas jalan.
“Jika dihitung secara keseluruhan, termasuk kendaraan pribadi di jalan tol maupun ruas lainnya, maka jumlah orang yang melakukan perjalanan dipastikan jauh lebih besar dari data angkutan umum yang tercatat,” ujar Faisal.
Faisal juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kelancaran arus lebaran, termasuk kepolisian, Jasa Raharja, Balai Pengelola Transportasi Darat Aceh, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh, ASDP, serta Angkasa Pura.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja sama sehingga arus mudik dan arus balik lebaran di Aceh dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kombes Pol Deden Supriyatna Imhar, menyebut pihaknya telah melakukan berbagai langkah pengamanan dan rekayasa lalu lintas, terutama di titik rawan kepadatan.
Ia menyoroti kawasan Kuta Blang, Bireuen, sebagai salah satu titik krusial sejak awal arus mudik. Di lokasi tersebut dilakukan penguatan personel dan rekayasa lalu lintas karena adanya perbaikan jembatan serta tingginya volume kendaraan.
“Sejak arus mudik, Kuta Blang menjadi perhatian karena volume kendaraan cukup tinggi, bahkan lebih besar dari arah Banda Aceh menuju Medan. Saat arus balik, personel kami masih tetap standby di lokasi untuk memastikan kelancaran lalu lintas,” ujarnya.
Deden juga mengungkapkan bahwa angka kecelakaan lalu lintas selama periode lebaran tahun ini menurun, dari 73 kasus tahun lalu menjadi 47 kasus. Namun, jumlah korban meninggal dunia justru meningkat dari 15 orang menjadi 20 orang.
“Beberapa faktor penyebab di antaranya kehilangan kendali saat berkendara, tidak menggunakan helm, serta berkendara dengan kecepatan tinggi,” kata Deden.
Ia menambahkan, daerah rawan kecelakaan meliputi Banda Aceh, Aceh Jaya, dan Aceh Timur. Bahkan, Aceh Tenggara yang sebelumnya tidak termasuk titik rawan, tahun ini mencatat dua korban meninggal dunia.
Pihak kepolisian akan terus menyiagakan personel di titik-titik rawan hingga arus balik benar-benar selesai dan kondisi lalu lintas kembali normal.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News







