Langkah ini dinilai sebagai solusi strategis di tengah keterbatasan irigasi teknis, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada curah hujan. Optimalisasi tersebut juga sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong pemanfaatan maksimal potensi lahan pertanian demi menjaga ketahanan pangan nasional.
Di Aceh Besar, sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama kebutuhan pangan daerah. Dengan luas lahan sawah mencapai puluhan ribu hektare serta produktivitas rata-rata 5–6 ton per hektare, daerah ini dinilai memiliki kontribusi besar terhadap ketersediaan beras di Aceh.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus memperkuat komitmennya dalam mendukung swasembada pangan melalui peningkatan luas tambah tanam (LTT) serta optimalisasi lahan pertanian. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menyasar kesejahteraan petani melalui penyediaan teknologi, pelatihan, serta akses terhadap sarana produksi pertanian. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong pertanian yang berkelanjutan.
Petani di Maheng pun optimistis bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sawah tadah hujan dapat menjadi salah satu andalan dalam mendukung ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Kalau semua petani serius mengelola lahannya, kami yakin swasembada pangan bisa tercapai. Kami di desa siap mendukung program pemerintah,” tutup Nasri.
Optimalisasi sawah tadah hujan menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Dukungan petani di Gampong Maheng menjadi bukti bahwa swasembada pangan bukan sekadar program, melainkan gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News







