Gusmawi Mustafa Dorong Penggalian Potensi ZIS dalam Musrenbang untuk Perkuat Ekonomi Umat

Share

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Kepala Sekretariat Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa, SE, mengusulkan agar penggalian potensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS) menjadi bagian dari pembahasan dalam setiap tahapan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), mulai dari tingkat dusun, gampong, kecamatan hingga kabupaten.

Hal tersebut disampaikan Gusmawi dalam sesi diskusi Forum Konsultasi Publik Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2027 yang digelar di Aula Dinas Pariwisata Aceh Selatan, Rabu (11/3/2026).

Kegiatan itu dibuka langsung oleh Bupati Aceh Selatan H. Mirwan MS, SE, M.Sos dan dihadiri unsur Forkopimda Aceh Selatan, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), tokoh masyarakat, tokoh agama, serta tokoh perempuan dari berbagai wilayah di kabupaten tersebut.

Dalam forum tersebut, Gusmawi menilai penguatan perencanaan zakat dari tingkat gampong hingga kabupaten merupakan langkah penting untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, zakat tidak hanya sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai instrumen ekonomi umat apabila dikelola secara amanah dan profesional.

“Zakat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan setiap tahun, tetapi merupakan jalan yang Allah berikan untuk mengangkat derajat ekonomi umat. Ketika zakat dikelola dengan amanah dan profesional, maka kemiskinan bukan lagi sekadar persoalan yang sulit diatasi, melainkan tantangan yang dapat kita selesaikan bersama,” ujar Gusmawi.

Ia menjelaskan, gagasan tersebut juga pernah dibahas dalam kegiatan perekaman Podcast Kito – Sahabat Zakat yang dilaksanakan di Kantor Baitul Mal Aceh Selatan pada Senin (9/3/2026).

Dalam podcast tersebut, Gusmawi bertindak sebagai host dengan menghadirkan narasumber Imam Mufti Syah Putra, S.Pd, yang merupakan Keuchik Pasie Kuala Ba’u, Kecamatan Kluet Utara.

Melalui diskusi itu, disepakati bahwa peningkatan kapasitas dan penguatan pengelolaan Lembaga Baitul Mal Gampong (BMG) menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Aceh Selatan. Saat ini, lembaga tersebut telah dikukuhkan di 260 gampong di wilayah tersebut.

Menurut Gusmawi, salah satu langkah awal yang perlu dilakukan adalah menggali potensi zakat secara sistematis melalui forum-forum perencanaan pembangunan.

“Ke depan, kita membutuhkan penggalian gagasan di tingkat dusun, Musrenbang Gampong, Musrenbang Kecamatan hingga Musrenbang Kabupaten. Pada setiap tingkatan musyawarah tersebut perlu dilakukan pemetaan potensi zakat, infak dan sedekah sekaligus memetakan kebutuhan penyaluran bantuan kepada para mustahiq yang menjadi sasaran sesuai dengan Asnaf / Senif Zakat dan kriteria yang ditetapkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemetaan tersebut nantinya dapat menjadi rujukan bagi berbagai lembaga pengelola zakat dalam menyalurkan bantuan secara lebih tepat sasaran.

Lembaga yang dimaksud antara lain Baitul Mal Gampong, Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan, Baitul Mal Aceh di Banda Aceh, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS RI), serta berbagai Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) lainnya seperti LAZISMU, LAZISNU, dan zakat maupun infak dari masyarakat secara perseorangan.

“Penyaluran bantuan sangat dimungkinkan dilakukan melalui sistem permintaan atau request, yaitu berdasarkan daftar calon mustahiq yang telah dipetakan dan dimiliki oleh lembaga pengelola zakat maupun perseorangan,” ungkapnya.

Ia menilai, mekanisme tersebut dapat membantu Baitul Mal Aceh Selatan dalam melakukan sinkronisasi program serta pemetaan kebutuhan masyarakat sehingga penyaluran zakat dan infak dapat berjalan lebih optimal.

Gusmawi juga mengingatkan bahwa potensi zakat di Aceh Selatan sebenarnya sangat besar. Hal itu pernah disampaikan dalam Rapat Koordinasi Baitul Mal se-Aceh yang digelar di Ruang Rapat Setdakab Aceh Selatan pada 2024.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Badan dan Kepala Sekretariat Baitul Mal Kabupaten/Kota se-Aceh, Baitul Mal Aceh, serta dipimpin oleh Dr. H. Muhammad Hasbi Zainal, Direktur Kajian dan Pengembangan DKSL BAZNAS RI.

Dalam kesempatan itu disampaikan bahwa potensi pengumpulan zakat dan infak di Kabupaten Aceh Selatan diperkirakan mencapai sekitar Rp200 miliar.

“Potensi sebesar ini adalah kekuatan besar umat. Jika kita mampu mengelolanya dengan baik, maka zakat dapat menjadi energi perubahan bagi masyarakat. Harta yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan berkurang, justru akan menjadi keberkahan yang meluaskan rezeki dan menenangkan hati,” kata Gusmawi.

Ia menilai potensi tersebut dapat diwujudkan apabila seluruh pihak berperan aktif, termasuk melalui penguatan Lembaga Baitul Mal Gampong, Unit Pengumpulan Zakat, serta masyarakat yang selama ini menyalurkan zakat secara langsung kepada mustahiq.

Menurutnya, zakat juga memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat dalam membangun solidaritas masyarakat.

“Zakat adalah jembatan kasih sayang antara yang mampu dan yang membutuhkan. Setiap rupiah zakat yang kita tunaikan sejatinya adalah harapan baru bagi saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan,” ujarnya.

Selain itu, Gusmawi juga mengusulkan gagasan inovatif berupa Musrenbang Khusus Zakat dan Infak (ZIS) sebagai bagian dari implementasi keistimewaan Aceh dalam bidang syariat Islam.

Menurutnya, konsep tersebut berpotensi menjadi inovasi pertama di Aceh bahkan di Indonesia.

“Musrenbang ZIS ini dapat menjadi sarana untuk menggali potensi zakat sekaligus memetakan kebutuhan mustahiq secara lebih sistematis. Dengan demikian, dana zakat dan infak tidak hanya membantu masyarakat hari ini, tetapi juga mampu memberdayakan mereka sehingga suatu hari nanti mustahiq dapat berubah menjadi muzakki,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penyusunan petunjuk teknis terkait pengumpulan dan pemanfaatan zakat serta infak sebagai pedoman bagi para amil dalam menjalankan tugas secara profesional, transparan dan akuntabel.

“Amil adalah penjaga amanah umat. Ketika amanah itu dijaga dengan baik, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh dan keberkahan zakat akan dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tuturnya.

Di akhir penyampaiannya, Gusmawi berharap gagasan tersebut dapat menjadi inspirasi bersama serta mendapat dukungan dari berbagai pihak agar dapat segera diwujudkan.

“Jika potensi zakat umat mampu kita satukan, maka kekuatan ekonomi umat akan bangkit dengan sendirinya. Mari kita jadikan zakat sebagai gerakan bersama untuk membangun Aceh Selatan yang lebih sejahtera, produktif dan penuh keberkahan,” pungkasnya. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News