NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Luas tutupan hutan di Provinsi Aceh terus menyusut dari tahun ke tahun. Penurunan ini kian terasa dampaknya, terutama setelah banjir bandang melanda hampir seluruh wilayah Aceh pada akhir November 2025.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), dari total 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 16 daerah terdampak banjir. Wilayah tersebut meliputi Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan.
Berbagai faktor disebut menjadi penyebab kerusakan hutan di Aceh, mulai dari perambahan, pembalakan liar, aktivitas pertambangan, hingga alih fungsi hutan menjadi kawasan perkebunan.
Manager Geographic Information System (GIS) Yayasan HAkA, Lukmanul Hakim, menyebutkan bahwa tren kehilangan tutupan hutan di Aceh terus meningkat. Pada 2023, luas hutan yang hilang tercatat sekitar 8.906 hektar.
“Namun pada 2024, tutupan yang hilang mencapai 10.610 hektar,” jelasnya, Selasa (25/2/2025) lalu.
Jika ditinjau berdasarkan wilayah, Aceh Selatan menjadi kabupaten dengan kehilangan tutupan hutan terbesar selama tiga tahun berturut-turut. Data Mongabay mencatat, pada 2022 Aceh Selatan kehilangan hutan seluas 1.883 hektar, disusul Aceh Jaya 776 hektar, Aceh Timur 753 hektar, Aceh Utara 666 hektar, dan Aceh Barat 642 hektar.
Tren tersebut berlanjut pada 2023. Aceh Selatan kembali menempati posisi teratas dengan kehilangan hutan seluas 1.854 hektar. Setelahnya menyusul Kota Subulussalam 911 hektar, Aceh Utara 866 hektar, Aceh Timur 611 hektar, serta Aceh Barat 557 hektar.
Sementara itu, catatan Yayasan HAkA yang dikutip Nukilan.id menunjukkan bahwa pada 2024, Aceh Selatan masih menjadi daerah dengan kehilangan tutupan hutan terbesar, yakni 1.357 hektar. Angka tersebut diikuti oleh Aceh Timur sebesar 1.096 hektar dan Kota Subulussalam 1.040 hektar.
Hutan yang selama ini berfungsi sebagai benteng alami Aceh terus menyusut. Dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari meningkatnya risiko banjir dan longsor hingga ancaman krisis lingkungan yang semakin serius. (XRQ)
Reporter: Akil

