NUKILAN.ID | TAKENGON – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mengungkap penyebab terbentuknya lubang raksasa (sinkhole) di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Fenomena tersebut dipicu oleh kondisi geologi yang tidak stabil dan telah berlangsung dalam kurun waktu cukup lama.
Hal itu tertuang dalam surat resmi Dinas ESDM Aceh Nomor 500.10.5.3/162 tertanggal 27 Januari 2026 yang ditujukan kepada Bupati Aceh Tengah. Dikutip dari Kompas.com, Minggu (1/2/2026), dan memuat hasil penyelidikan banjir serta longsor di sejumlah wilayah Aceh Tengah, termasuk di Kampung Pondok Balik.
Dalam surat itu dijelaskan, tim Dinas ESDM Aceh melakukan penyelidikan pascabencana di empat kecamatan, yakni Kecamatan Ketol, Kebayakan, Lut Tawar, dan Bintang. Penyelidikan difokuskan untuk mengetahui penyebab gerakan tanah yang berujung pada longsor dan terbentuknya lubang raksasa.
Hasil kajian menunjukkan, wilayah Kampung Pondok Balik telah mengalami longsor secara berulang sejak 2011. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik.
“Pada Tahun 2022 melalui Surat Laporan Penyelidikan Kepada Bupati Aceh Tengah No: 360/649 Tanggal 30 Mei 2022 kami memantau luasan gerakan tanah yaitu sebesar 28.000 meter persegi, dan saat ini telah berkembang seluas 30.172 m2 yang telah mencapai badan jalan utama dan terus berkembang ke arah Tenggara,” kata Taufik, seperti dikutip dalam surat tersebut.
Struktur Batuan Rentan dan Aliran Air Bawah Tanah
Taufik menjelaskan, secara geologi kawasan tersebut tersusun atas batuan vulkanik yang didominasi material tufa dan pasir yang mudah terurai. Kondisi itu diperparah oleh adanya aliran air bawah tanah yang terus menggerus material penyusun lereng.
Selain itu, kemiringan tebing yang curam menyebabkan kestabilan lereng semakin menurun. Apabila dipicu curah hujan tinggi atau getaran gempa bumi, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gerakan tanah dan longsor lanjutan.
Rekomendasi Mitigasi dan Penanganan
Sehubungan dengan temuan tersebut, Dinas ESDM Aceh merekomendasikan agar masyarakat menjauhi kawasan longsor, termasuk jalan yang terdampak, karena berpotensi kembali terjadi pergerakan tanah.
Pemerintah daerah juga diminta memasang rambu peringatan rawan longsor serta garis pembatas di sekitar lokasi terdampak.
“Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terhadap bahaya longsor serta memahami karakteristik longsoran sebagai upaya mitigasi bencana,” masih dikutip dalam surat tersebut.
Selain itu, ESDM Aceh merekomendasikan pemantauan berkala dan penyelidikan lanjutan terhadap potensi longsor, terutama jika ditemukan retakan baru. Pembuatan saluran drainase kedap air yang menjauhi area longsor juga dinilai penting.
“Membuat saluran drainase kedap air yang menjauhi area longsor,” demikian isi rekomendasi lainnya.
Pemerintah daerah juga diminta mempertimbangkan pemindahan trase jalan agar menjauhi zona longsoran. Setiap pembangunan infrastruktur baru, khususnya jalan, disarankan didahului kajian geologi teknik.
Ancaman terhadap Infrastruktur Strategis
Dalam resume laporan penyelidikan yang dilampirkan, Dinas ESDM Aceh menyebutkan bahwa pengamatan lapangan dilakukan menggunakan foto udara dari wahana nirawak (drone). Pemantauan dilakukan sejak 5 Desember 2021 hingga saat ini.
Interpretasi citra udara menunjukkan arah pergerakan longsor cenderung dominan ke Tenggara. Pola ini mengindikasikan pergerakan massa tanah yang terarah dan berpotensi berdampak ke wilayah hilir lereng.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena di sepanjang jalur pergerakan longsor terdapat infrastruktur strategis, seperti jalan lintas antarkecamatan dan menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).
Resume laporan juga mengungkap adanya zona jenuh air di bawah permukaan tanah yang berkorelasi dengan jalur pergerakan longsor. Berdasarkan kajian tersebut, arah perkembangan longsoran diperkirakan terus bergerak ke arah Tenggara dan Selatan.

