NUKILAN.ID | BANDA ACEH — International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) memastikan ketersediaan air bersih bagi para pengungsi terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang melalui pengoperasian Camp WASH (Water, Sanitation and Hygiene) sejak awal masa tanggap darurat.
Head of Delegation IFRC CCD untuk Indonesia, Timor Leste, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, Kathryn Clarkson, mengatakan bahwa air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar dalam situasi darurat. “Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar dalam situasi darurat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Kathryn saat meninjau langsung Camp WASH di lokasi pengungsian Desa Alur Manis, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, guna memastikan pasokan air bersih tetap aman dan mencukupi bagi para pengungsi.
IFRC, yang merupakan federasi internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, berperan mengoordinasikan serta mendukung Palang Merah Indonesia (PMI) dalam penanganan bencana. Dalam respons kemanusiaan di Aceh, IFRC bersama PMI telah mendirikan empat Camp WASH yang tersebar di Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara.
Selain itu, IFRC menyediakan 25 unit mobil tangki air berkapasitas 5.000 liter. Sebanyak 10 armada dioperasikan di Aceh Tamiang, sementara Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara masing-masing mendapat empat armada. Tiga armada lainnya ditempatkan di Bener Meriah di luar lokasi Camp WASH.
Kathryn menjelaskan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari pemantauan dan penguatan layanan dasar kemanusiaan, khususnya akses air bersih dan sanitasi yang menjadi kebutuhan mendesak selama masa tanggap darurat. Dalam peninjauan itu, IFRC mengevaluasi sistem distribusi air, kapasitas penampungan, kualitas air, serta kondisi fasilitas sanitasi di lokasi pengungsian.
“Melalui pengecekan ini, kami ingin memastikan layanan WASH berjalan dengan baik, aman, dan mampu menjangkau seluruh pengungsi, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan,” kata Kathryn.
Sementara itu, Kepala Markas PMI Pusat, Arifin Muh Hadi, menegaskan komitmen PMI sebagai mitra utama pelaksana layanan WASH di lapangan untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi.
Menurutnya, Camp WASH memiliki peran strategis dalam menjaga kesehatan dan martabat pengungsi selama masa tanggap darurat. PMI bersama para relawan terus mengelola Camp WASH secara berkelanjutan, termasuk memantau kualitas air dan memastikan fasilitas sanitasi digunakan dengan aman.
“Selain distribusi air, kami juga memantau kualitas air dan memastikan fasilitas sanitasi dapat digunakan dengan aman,” ujar Arifin.
Ia menambahkan, layanan WASH tidak hanya berfokus pada penyediaan air bersih, tetapi juga mencakup promosi kebersihan dan sanitasi sebagai langkah pencegahan penyakit berbasis lingkungan di lokasi pengungsian.
Dengan dukungan IFRC dan PMI, layanan Camp WASH diharapkan terus berjalan optimal demi memastikan pengungsi tetap memperoleh akses air bersih dan sanitasi yang layak, aman, dan bermartabat di tengah situasi bencana.

