Kilas Balik Tragedi Tiananmen 1989: Luka Sejarah yang Masih Membekas di Tiongkok

Share

NUKILAN.ID | BEIJING — Malam itu, suara tembakan menggema di pusat ibu kota Tiongkok. Jalan-jalan yang sebelumnya dipenuhi semangat reformasi mendadak berubah menjadi ladang kekerasan. Ribuan pasang mata dunia terkejut menyaksikan bagaimana pemerintah Tiongkok menggunakan kekuatan militer untuk membungkam suara rakyatnya sendiri.

Insiden yang kemudian dikenal sebagai Pembantaian Tiananmen — atau secara resmi disebut “Insiden 4 Juni” oleh pemerintah Tiongkok — menjadi titik balik kelam dalam sejarah gerakan pro-demokrasi di negara tersebut.

Akar Gerakan: Duka yang Memantik Perlawanan

Dilansir Nukilan.id dari artikel What is the Tiananmen crackdown? Awal kisah ini bermula dari kematian Hu Yaobang pada April 1989. Hu, tokoh reformis Partai Komunis Tiongkok, dikenal sebagai pendukung perubahan politik dan kebebasan berbicara. Kepergiannya memicu kesedihan mendalam di kalangan mahasiswa, yang kemudian berubah menjadi aksi protes massal menuntut reformasi politik, transparansi, dan penghapusan korupsi.

Dalam artikelnya yang berjudul Tiananmen Square, 1989, yang diterbitkan oleh Office of the Historian, U.S. Department of State pada tahun 2013, disebutkan bahwa Lapangan Tiananmen merupakan simbol kekuasaan di jantung Kota Beijing. Tempat ini menjadi pusat berkumpulnya jutaan orang dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari mahasiswa, pekerja, pensiunan, hingga petani—yang menggelar unjuk rasa damai terbesar dalam sejarah Tiongkok modern.

Namun, ketidaksabaran negara mulai terasa ketika Pemerintah Tiongkok mendeklarasikan keadaan darurat militer pada 20 Mei 1989.

Malam Penuh Darah di Jantung Beijing

Pada malam 3 Juni hingga menjelang pagi 4 Juni, Beijing berubah menjadi zona perang. Ribuan tentara bersenjata lengkap dan kendaraan lapis baja bergerak masuk ke kota. Mereka bukan hanya membawa senjata, tetapi juga perintah untuk menumpas.

Saat pasukan mendekati Lapangan Tiananmen, mereka mulai melepaskan tembakan ke arah kerumunan tanpa peringatan. Banyak demonstran ditembak dari belakang ketika mencoba melarikan diri. Beberapa lainnya, tragisnya, tewas terlindas kendaraan militer.

Dalam artikel tentang Insiden Tiananmen yang dimuat di Ensiklopedia Britannica, dikisahkan bahwa meskipun situasi saat itu kacau dan penuh ketakutan, ada satu gambar yang tetap membekas: sosok “Tank Man” — seorang pria anonim yang berdiri tegak menghadang laju deretan tank. Foto ini, yang tersebar luas di dunia Barat, menjadi simbol keberanian warga sipil dalam menghadapi kekuasaan yang otoriter.

Korban dan Misteri Angka yang Disembunyikan

Jumlah korban tewas masih menjadi misteri yang dijaga ketat oleh Pemerintah Tiongkok. Versi resmi menyebutkan bahwa sekitar 200 orang tewas — termasuk 36 mahasiswa — dan lebih dari 3.000 lainnya terluka. Namun, kelompok HAM dan pengamat independen memperkirakan jumlah korban jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai ribuan.

Kelompok “Tiananmen Mothers”, yang terdiri dari keluarga para korban, telah lama menyerukan penyelidikan independen dan menuntut daftar nama korban dipublikasikan. Namun, hingga hari ini, permintaan mereka belum pernah digubris secara resmi.

Pasca pembantaian, operasi penangkapan besar-besaran dilakukan. Banyak demonstran yang ditahan tanpa pengadilan yang adil. Sebagian besar dijerat dengan tuduhan “kontra-revolusioner”, sebuah istilah klasik yang digunakan pemerintah Tiongkok untuk membungkam kritik.

Peringatan atas insiden ini dihapus dari buku pelajaran, dilarang dibahas di ruang publik, dan segala pencarian daring yang terkait dengan Tiananmen 1989 dikendalikan secara ketat oleh sensor negara.

Respon Dunia: Kecaman dan Sanksi

Peristiwa ini mengejutkan dunia. Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya dengan cepat mengecam keras tindakan brutal militer Tiongkok. Serangkaian sanksi ekonomi dan diplomatik diberlakukan. Hubungan internasional Tiongkok memburuk seketika.

Namun, waktu bergulir dan dunia berubah. Hubungan diplomatik Tiongkok dengan banyak negara kembali pulih seiring kekuatan ekonominya yang terus tumbuh. Sayangnya, luka Tiananmen tetap tertutup rapat di dalam negeri.

Hari ini, setiap kali tanggal 4 Juni datang, warga Tiongkok di dalam negeri tidak pernah melihat berita atau peringatan publik. Tetapi di luar negeri, para eksil, aktivis HAM, dan diaspora Tiongkok tetap menyalakan lilin, mengenang mereka yang gugur demi suara rakyat.

Insiden Tiananmen bukan hanya tentang kematian, tetapi juga tentang keberanian. Ia adalah pengingat bahwa bahkan dalam kegelapan total, masih ada yang berani berdiri — sendiri — menghadapi kekuasaan. (XRQ)

Reporter: Akil

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News