NUKILAN.id | Sigli — Industri peci dan baju khas Aceh di Kelurahan Garot, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, tengah menghadapi masa-masa sulit. Penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut menjadi salah satu faktor utama lesunya penjualan produk-produk khas ini.
Owner usaha pakaian adat Aceh, Jumadin ST, mengatakan bahwa usaha home industrinya dengan merek dagang “Meusyeuhu” mengalami penurunan drastis dalam hal pembeli.
“Jumlah pembeli semakin sepi. Kondisi ini diperparah dengan minimnya wisatawan yang berkunjung ke Pidie,” ujar Jumadin, dikutip Atjehwatch.com, Selasa (20/8/2024).
Jumadin menjelaskan, produk peci dan baju khas Aceh yang diproduksi di Garot dikerjakan oleh pengrajin lokal melalui proses pembuatan rajut tangan (handmade).
“Semua dibuat oleh masyarakat setempat, dari lansia hingga remaja, dengan satu peci memerlukan waktu tiga hari pengerjaan oleh tiga pengrajin,” jelasnya.
Di tengah situasi sulit ini, Jumadin berharap pemerintah dapat lebih aktif dalam mempromosikan produk lokal untuk mendukung perekonomian masyarakat, khususnya di Pidie.
“Pemerintah harus hadir dan mempromosikan produk lokal agar perekonomian masyarakat kembali hidup,” tegasnya.
Sebagai pengusaha muda, Jumadin memiliki visi untuk memajukan daerah melalui karya-karya home industri. Ia menginginkan adanya kolaborasi dengan pemerintah untuk mengkampanyekan produk-produk kerajinan tangan Aceh, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Kita berharap ke depan pemerintah lebih inovatif dalam membangun tata kelola Aceh. Jika ingin Aceh lebih unggul, terutama dalam bidang kerajinan lokal, promosi harus digalakkan,” kata Jumadin.
Dengan visi tersebut, Jumadin bertekad untuk membawa Pidie menjadi daerah yang lebih unggul dan produktif demi peningkatan ekonomi masyarakat pengrajin.
Editor: Akil



