IMT-GT Business Forum 2026 Dorong Aceh Jadi Koridor Investasi Kawasan

Share

MEDAN — Pemerintah Aceh terus memperkuat peran daerah dalam kerja sama ekonomi subregional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dengan mendorong peningkatan konektivitas, perdagangan, dan investasi lintas batas.

Komitmen tersebut mengemuka dalam IMT-GT Business Forum 2026 yang berlangsung di Ballroom JW Marriott Medan, Selasa, 8 September 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda resmi yang digelar sebagai bagian dari rangkaian 23rd IMT-GT Chief Ministers’ and Governors’ Forum dan 32nd IMT-GT Ministerial Meeting.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, lembaga keuangan, perwakilan diplomatik, serta pemangku kepentingan dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk membahas berbagai peluang investasi dan penguatan kerja sama ekonomi di kawasan IMT-GT.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh, Marwan Nusuf, B.HSc, MA, mengatakan IMT-GT merupakan platform penting bagi ketiga negara untuk memperkuat kerja sama ekonomi sekaligus meningkatkan konektivitas kawasan.

Menurutnya, posisi geografis Aceh dan Sumatera Utara memberikan peluang besar untuk membangun koridor ekonomi yang menghubungkan berbagai pusat pertumbuhan di kawasan.

“Aceh memiliki posisi strategis di ujung barat kawasan IMT-GT, yang menghubungkan Laut Andaman dengan Selat Malaka. Sementara Sumatera Utara merupakan salah satu gerbang ekonomi dan industri utama menuju pasar Indonesia yang lebih luas,” kata Marwan.

Ia menilai kedua provinsi memiliki potensi untuk saling melengkapi dan membentuk sebuah koridor ekonomi yang lebih kuat.

“Aceh dan Sumatera Utara dapat menawarkan sesuatu yang lebih besar daripada jika kita melihat keduanya secara terpisah. Kita memiliki koridor yang menghubungkan pasar, infrastruktur, sumber daya, industri, destinasi pariwisata, dan berbagai peluang investasi,” ujarnya.

Marwan menegaskan, penyelenggaraan IMT-GT Business Forum 2026 tidak semata-mata ditujukan untuk mempromosikan proyek investasi yang ada di Aceh dan Sumatera Utara. Lebih dari itu, forum tersebut diarahkan untuk mempertemukan proyek dengan pasar dan investor yang memiliki kepentingan serta kapasitas untuk mengembangkan peluang tersebut.

“Tujuan kami bukan sekadar mempromosikan proyek. Tujuan kami adalah menghubungkan proyek dengan pasar, dan pasar dengan investor,” tegasnya.

Menurut Marwan, pendekatan tersebut penting agar promosi investasi dapat menghasilkan tindak lanjut yang nyata. Pemerintah daerah ingin memastikan bahwa pertemuan antara pemerintah, investor, dan pelaku usaha tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berkembang menjadi kerja sama bisnis dan investasi.

“Kami ingin melihat pembicaraan hari ini berkembang menjadi pertemuan bisnis, kunjungan proyek, pembahasan kelayakan, kemitraan, expression of interest, dan pada akhirnya menjadi komitmen investasi,” katanya.

Marwan menjelaskan bahwa Aceh memiliki sejumlah keunggulan strategis yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari koridor investasi IMT-GT. Letak Aceh yang berhadapan langsung dengan kawasan Andaman serta kedekatannya dengan jalur perdagangan internasional melalui Selat Malaka menjadi salah satu modal penting dalam memperkuat konektivitas regional.

Pada saat yang sama, Sumatera Utara memiliki basis industri, perdagangan, infrastruktur, serta akses pasar yang dapat menjadi penghubung Aceh dengan pusat-pusat ekonomi Indonesia.

Sinergi kedua provinsi tersebut dinilai dapat membuka ruang yang lebih besar bagi pengembangan investasi, khususnya dalam sektor-sektor yang membutuhkan konektivitas pasar, infrastruktur, logistik, kawasan industri, pariwisata, serta sumber daya.

Karena itu, pemerintah Aceh memandang penguatan hubungan Aceh dan Sumatera Utara sebagai bagian penting dalam memperluas keterhubungan ekonomi Indonesia dengan Malaysia dan Thailand.

“Kami mengundang para mitra dan pelaku usaha dari Malaysia dan Thailand untuk melihat Aceh dan Sumatera Utara bukan sebagai destinasi yang terpisah, tetapi sebagai gerbang yang saling terhubung menuju berbagai peluang di kawasan IMT-GT,” ujar Marwan.

IMT-GT Business Forum 2026 juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antara pemerintah dan sektor swasta di tiga negara.

Forum tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk delegasi dari provinsi-provinsi di Sumatera, negara bagian di Semenanjung Malaysia, serta provinsi-provinsi di Thailand bagian selatan.

Selain itu, hadir pula perwakilan kementerian dan lembaga pemerintah, Centre for IMT-GT (CIMT), IMT-GT Working Groups, IMT-GT Joint Business Council, Bank Indonesia, KADIN Aceh, KADIN Sumatera Utara, perwakilan diplomatik, investor, serta pelaku usaha.

Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut diharapkan dapat membuka peluang terbentuknya jaringan bisnis yang lebih kuat dan mendorong investasi lintas batas di kawasan IMT-GT.

Marwan menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia selaku Sekretariat Nasional IMT-GT yang telah mendukung dan menempatkan forum tersebut sebagai bagian dari agenda resmi rangkaian pertemuan IMT-GT.

Apresiasi juga disampaikan kepada Centre for IMT-GT atas dukungan dalam menghubungkan Aceh dengan agenda kerja sama subregional, serta kepada DPMPTSP Sumatera Utara sebagai mitra penyelenggara.

Menurut Marwan, kolaborasi antara Aceh dan Sumatera Utara menjadi contoh penting bahwa pengembangan investasi tidak harus dibatasi oleh batas administratif. Sebaliknya, konektivitas antarwilayah dapat menjadi kekuatan untuk meningkatkan daya saing dan memperluas skala peluang investasi.

Dari Promosi Menuju Komitmen Investasi

Pemerintah Aceh berharap IMT-GT Business Forum 2026 dapat menghasilkan berbagai tindak lanjut konkret setelah forum berakhir.

Pertemuan bisnis, kunjungan lapangan ke proyek investasi, pembahasan kelayakan, penjajakan kemitraan, hingga penyampaian minat investasi menjadi sejumlah indikator yang diharapkan dapat berkembang dari forum tersebut.

Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menggeser pendekatan promosi investasi dari sekadar memperkenalkan potensi menuju fasilitasi investasi yang lebih konkret dan berorientasi pada realisasi.

Marwan mengatakan momentum pertemuan IMT-GT juga penting untuk memastikan berbagai proyek strategis di Aceh dan Sumatera Utara dapat semakin dikenal oleh investor regional sekaligus ditempatkan dalam arah kerja sama IMT-GT ke depan.

“Kita ingin memastikan bahwa proyek-proyek strategis dari Aceh dan Sumatera Utara tidak hanya dipresentasikan kepada investor, tetapi juga dapat ditempatkan dalam arah masa depan kerja sama IMT-GT,” ujarnya.

Ia berharap diskusi dan pertemuan yang berlangsung dalam forum tersebut dapat berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak.

“Ini adalah momentum untuk membuka peluang investasi, menghubungkan pasar kita, memperkuat koridor ekonomi, dan menciptakan kemakmuran bersama di kawasan IMT-GT,” kata Marwan.

Dengan posisi strategis di kawasan Andaman dan Selat Malaka, serta potensi ekonomi dan investasi yang dimiliki, Aceh diharapkan dapat memainkan peran yang semakin besar dalam jaringan ekonomi IMT-GT.

Melalui penguatan kerja sama dengan Sumatera Utara dan mitra regional di Malaysia serta Thailand, Aceh tidak hanya diposisikan sebagai salah satu wilayah tujuan investasi, tetapi juga sebagai bagian dari koridor ekonomi regional yang menghubungkan pasar, industri, sumber daya, pariwisata, dan investor di kawasan IMT-GT.

Read more

Local News