Monday, February 26, 2024

Tantangan Pendidikan Inklusi di Aceh

Nukilan.id – Pendidikan inklusi merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memastikan bahwa setiap individu, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, memiliki akses yang sama terhadap pendidikan yang berkualitas. Konsep ini telah menjadi fokus utama dalam upaya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih merata, adil, dan berdaya bagi semua siswa.

Sebagai refleksi akhir tahun dan menjelang 2024, CEO Save Education Aceh (SEA) sekaligus guru SMPN 1 Banda Aceh, Aishah ingin menyoroti beberapa aspek penting tentang pendidikan inklusi. Pertama, pendidikan inklusi menuntut adanya perubahan paradigma dalam sistem pendidikan, sebutnya menjawab Nukilan.Id, Jumat (8/12/2023).

Menurut Aishah, ini bukan hanya tentang memasukkan siswa dengan kebutuhan khusus ke dalam kelas reguler, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan beragam siswa. CEO SEA ini menambahkan, hal ini menekankan pentingnya pelatihan guru, pengembangan kurikulum yang responsif, dan penggunaan metode pengajaran yang beragam untuk memenuhi kebutuhan individu.

Selain itu, pendidikan inklusi juga menekankan pada nilai kesetaraan dan penerimaan.
“Siswa dengan kebutuhan khusus seharusnya tidak dipandang sebagai beban bagi sistem pendidikan, tetapi sebagai individu yang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang,” ucapnya saat diwawancarai Nukilan.id.

Lanjutnya, hal ini juga membutuhkan perubahan sikap dan budaya di lingkungan sekolah, di mana keberagaman dihargai dan diperlakukan sebagai aset, bukan sebagai hambatan. Namun demikian, jelasnya, implementasi pendidikan inklusi juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kurangnya sumber daya dan dukungan yang memadai.

“Banyak sekolah dan lembaga pendidikan tidak dilengkapi dengan fasilitas atau personel yang memadai untuk mendukung pendidikan inklusi. Sementara itu, guru dan tenaga kependidikan mungkin memerlukan pelatihan tambahan untuk dapat mengelola kebutuhan beragam siswa dengan efektif,” jelasnya.

Di beberapa sekolah pendidikan dasar dan menengah bahkan kejuruan, yang ia pelajari bahwa fakta menunjukkan masih kurangnya pemahaman tentang inklusivitas dan praktik, serta budayanya, kata Aishah.

“Karena dengan memahami prinsip atau keadaan di mana semua orang tanpa memandang perbedaan mereka, diakui, dihargai, dan diikutsertakan secara merata dalam suatu lingkungan atau kegiatan, maka akan sulit untuk terjadi perubahan,” ujarnya.

Ia menyebut, tantangan yang berat adalah masalah bullying bahkan sampai kepada tahap penganiayaan, baik di sekolah umum, asrama, dan pasantren. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan, di mana sekolah atau lembaga pendidikan mengalami satu “degradasi perilaku” yaitu penurunan dalam kemampuan sosial, emosional, dan juga kognitif.

Hal tersebut dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti stress, tekanan, gangguan mental, atau faktor lingkungan. Dalam konteks kesehatan mental, penurunan perilaku juga dapat dikatakan sebagai “regresi”, yang artinya kembalinya individu ke tingkat perilaku yang lebih primitif atau kurang matang akibat stres dan tekanan.

Dalam istilah lain yaitu “maladaptif behavior” yang menggambarkan perilaku yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Dalam refleksi ini, ia percaya bahwa pendidikan inklusi adalah langkah yang sangat penting menuju sistem pendidikan yang lebih baik. Namun, untuk mewujudkannya diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, guru, orang tua, dan masyarakat secara keseluruhan. Hanya dengan kolaborasi yang kuat dan kesadaran akan pentingnya inklusi.

“Kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang benar-benar merangkul semua individu dan memberikan kesempatan yang adil bagi setiap siswa untuk tumbuh dan berkembang,” pungkasnya. [Auliana Rizky]

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img